Rabu, 13 April 2011

Problem pendidikan Islam

Selain problem keilmuan yang berasal dari masuknya konsep-konsep, ide-ide dan paham-paham asing, secara internal ummat Islam juga memiliki problem yang tidak kalah seriusnya. Problem yang pertama adalah lemahnya tradisi pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan doktrinal maupun pengetahuan spekulatif. Kelemahan ini mengakibatkan miskinnya konsep-konsep baru yang rasional sehingga isu-isu yang dibawa oleh kelompok modernis ataupun rasionalis yang sebenarnya tidak berasal dari tradisi intelektual Islam dianggap sebagai sesuatu yang baru dan dianggap menyegarkan. Padahal ia lebih merupakan adopsi dari pandangan Barat ataupun Orientalis yang masih perlu dikritisi. Tapi lagi-lagi tradisi kritik (naqd) belum menjadi mekanisme intelektual yang mapan.

Masalah ini menjadi lebih serius lagi jika dikaitkan dengan pembentukan disiplin ilmu baru dalam Islam. Tradisi mengadakan kajian dalam satu bidang pemikiran Islam belum bisa tumbuh sebagaimana kajian dalam bidang ilmu-ilmu sekuler, karena kekurangan sumber daya manusia ataupun belum wujudnya komunitas untuk itu. Ini berarti keahlian cendekiawan kita masih belum terklassifikasikan dalam disiplin ilmu tersendiri. Satu konsep dalam satu bidang kajian masih bercampur campur dengan konsep-konsep dalam bidang lain dan bahkan konsep-konsep yang diambil dari konsep asing masih belum sempurna diasimilasikan kedalam pandangan hidup Islam. Nampaknya semua cendekiawan dapat berbicara tentang semua masalah karena dianggap mengerti semua masalah, sehingga kita sulit menemukan seorang cendekiawan yang menekuni satu bidang khusus dan menghasilkan konsep-konsep Baru. Dalam perkembangan selanjutnya ketika masyarakat ilmiah semakin dewasa dalam memahami Islam spesialisasi dalam suatu bidang ilmu agama menjadi tuntutan masyarakat yang tidak dapat dihindarkan dan dari situ akan muncul disiplin ilmu Baru dalam Islam yang lahir dari pandangan hidup Islam.

Oleh sebab itu, klassifikasi ilmu yang dicanangkan al-Ghazzali yang berupa farÌu 'ayn dan farÌu kifÉyah dapat dikembangkan dalam konteks kekinian. Ilmu farÌu 'ain dapat diartikan sebagai compulsory subject bagi mahasiswa atau pelajar Muslim yang berupa ilmu-ilmu agama yang asasi tergantung tingkat pendidikannya. Tingkat universitas misalnya TafsÊr, hadÊth, syarÊ'ah, teologi (ilmu Kalam), metafisika dapat dimasukkan kedalam ilmu farÌu 'ain. Ilmu FarÌu KifÉyah adalah ilmu yang tidak mesti dituntut oleh semua Muslim, termasuk di dalamnya ilmu manusia, ilmu alam, ilmu terapan, perbandingan agama, kebudayaan Islam dan Barat, ilmu bahasa dan sastra, sejarah Islam dsb.[1] Pembagian ilmu faÌu 'ayn dan farÌu kifÉyah ini tidak perlu difahami secara dikhotomis, karena ia hanyalah pembagian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Ia harus dilihat dalam perspektif kesatuan integral atau tawÍÊdi, di mana yang pertama merupakan asas dan rujukan bagi yang kedua.

Tapi masalahnya dalam kurikulum pendidikan Islam, pengajaran ilmu-ilmu farÌu 'ayn yang berhubungan dengan keimanan dan kewajiban-kewajiban individu berhenti pada jenjang pendidikan rendah atau menengah dan tidak dilanjutkan pada tingkat universitas. Konsep hirarki ilmu pengetahuan ilmu farÌu 'ayn dan farÌu kifÉyah itu belum banyak dikenal di kalangan lembaga pendidikan Islam, jikapun dikenal ia masih banyak disalahpahami atau masih belum dikonseptualisasikan serta dipraktekkan secara akademis. Pembagian ini perlu ditekankan pada jenjang perguruan tinggi. Sebab masalahnya berkaitan dengan konsep ilmu (epistemologi).

Untuk mengidentifikasi problem ilmu pengetahuan pada lembaga pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, ada baiknya dibahas situasi pada 3 institusi pendidikan Islam, yaitu pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam.

 

A.    Sistem pendidikan pesantren  

Pesantren di Indonesia terdiri dari dua sistem yaitu tradisional dan modern. Keduanya mempunyai missi tafaqquh fÊ al-dÊn, artinya lembaga pendidikan yang bertujuan khusus mempelajari agama. Pada pesantren tradisional missi ini dijabarkan secara kurikuler dalam bentuk kajian kitab kuning yang terbatas pada Fiqih, Aqidah, Tata Bahasa Arab, Hadith, Tasawwuf dan Tarekat, Akhlak, dan Sirah. Sementara itu bagi pesantren modern missi ini diwujudkan dalam bentuk kurikulum yang diorganisir dengan menyederhanakan kandungan kitab kuning sehingga bersifat madrasi dan melengkapinya dengan mata pelajaran ilmu-ilmu yang biasa disebut "ilmu pengetahuan umum". Pesantren tradisional yang mengkhususkan diri pada kajian ilmu farÌu 'ayn terpaksan mengorbankan ilmu farÌu kifÉyah dalam pengertian 'ulËm al-naqliyyah. Bahkan kajian ilmu farÌu 'ayn dengan kekayaan kitabnya itu belum dapat memainkan perannya yang berarti terhadap kajian disiplin ilmu farÌu kifÉyah di lembaga pendidikan Islam lainnya atau pendidikan sekuler. Selain itu karena kelemahan metodologis pesantren tradisional takhaÎÎuÎ pada satu bidang ilmu tertentu terlalu kaku, sehingga menyulitkan kerja-kerja integrasi ilmu fardu ayn dan farÌu kifayah. Di pesantren ini sangat sedikit sekali, atau bahkan mungkin tidak ada, kajian 'ulËm al-'aqliyyah seperti logika, filsafat, metafisika, kalÉm, kedokteran dan lain-lain. Ringkasnya, secara umum pembagian hirarki ilmu farÌu 'ayn dan farÌu kifÉyah tidak nampak jelas, bahkan ilmu farÌu kifÉyah yang melibatkan kajian tentang alam dan hakekat manusia hampir tidak mendapat tempat dalam kurikulum pesantren tradisional itu sendiri.

Pesantren modern yang memahami tafaqquh fi al-dÊn dalam bentuk gabungan ilmu farÌu 'ayn dan farÌu kifÉyah memang berhasil memberikan wawasan yang lebih luas dibanding pesantren tradisional, namun sesungguhnya gabungan itu bukan merupakan hasil integrasi 'ulËm al-naqliyyah dan 'ulËm al-'aqilyyah yang didesain secara konseptual. Mata pelajaran Fisika misalnya masih belum dikaitkan dengan mata pelajaran Usuluddin, mata pelajaran Sejarah Dunia tidak mengandung Sejarah Islam atau peranan ummat Islam dalam sejarah dunia dan sebagainya. Jadi kurikulum pesantren modern bukan merupakan hasil dari konsep ilmu yang integral, tapi lebih merupakan kajian serempak ilmu farÌu 'ayn dan farÌu kifÉyah. Jadi, masih terbuka kemungkinan akan adanya pandangan dikhotomis para santrinya. Meskipun begitu sebenarnya dengan sistem madrasi-nya yang mengharuskan pengajaran banyak materi mabÉdi' al-'ulËm (ilmu-ilmu kunci) pesantren modern berpotensi untuk memproduk generalis dan lebih kondusif untuk menanamkan pandangan hidup Islam dibanding pesantren tradisional. Kedua sistem pendidikan pesantren ini sebenarnya sama-sama memiliki potensi untuk diarahkan mengkaji ilmu pengetahuan Islam secara integral. Namun hal itu tergantung kepada kapasitas kyai, ulama dan asÉtidhah-nya.

  1. Sistem Pendidikan Madrasah

Sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan pemerintah sebenarnya diharapkan mampu menciptakan pelajar-pelajar yang mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus.[2] Sistem pendidikan madrasah mulanya didesain sebagai konvergensi kurikulum pendidikan pondok dan sekolah umum yang sedikit banyak serupa dengan kurikulum pesantren modern. Namun pengembangan program-program khusus atau jurusan tertentu yang memisahkan ilmu farÌu 'ayn dan ilmu farÌu kifÉyah dengan tanpa konsep yang jelas, peran madrasah dalam mengeliminir dikhotomi ilmu dalam pendidikan Islam semakin tidak nampak. Di sisi lain kegagalan sistem madrasah juga dapat dilihat dari fakta dimana prestasi kebanyakan murid-murid madrasah dalam bidang "ilmu-ilmu agama" masih tertinggal jauh dari prestasi santri-santri pondok pesantren dan dalam bidang "ilmu-ilmu umum" pula mereka tidak bisa mengimbangi prestasi murid-murid sekolah umum. Selain itu, sejauh ini nampaknya ilmu pengetahuan umum (sekuler) tidak diajarkan dalam perspektif ilmu agama.

 

C.    Sistem Perguruan tinggi Islam

Terlepas dari peran kemasyarakat yang dimainkan oleh sistem pesantren, kekurangan yang paling menonjol adalah ketidakmampuan keduanya dalam mengembangkan tingkat tingginya atau perguruan tingginya. Yakni perguruan tinggi yang khas dibangun sebagai kelanjutan tradisi intelektual Islam atau sekurang-kurangnya dibangun berdasarkan pada tradisi keilmuan di pesantren. Padahal dulu hampir semua pesantren memiliki program tingkat tingginya, yang di pesantren tradisional disebut khawÉÎ dan di pesantren modern disebut pesantren tinggi, meskipun tidak dilembagakan secara formal. Program itu kini sudah sangat jarang, kalaupun tidak boleh dikatakan tidak ada. Kini di beberapa pesantren program itu telah diganti dengan sekolah tinggi atau institut yang mengikuti kurikulum Departemen Agama yang sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan kelanjutan dari kurikulum pesantren. Ada pula pesantren yang mendirikan universitas dengan fakultas yang mengikuti kurikulum Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Isi dan produknya tentu yang tidak jauh beda dengan universitas umum. Gagasan dan usaha untuk menghidupkan program Ma'had 'Óly sebagai lanjutan pendidikan pesantren ternyata terhalang oleh kemiskinan konsep dan sumber daya manusia.

Jenjang pendidikan tinggi dalam bentuk institut atau universitas yang merupakan lanjutan bagi kajian ilmu-ilmu keislaman di pesantren nampaknya belum terwujud. Akibatnya khazanah ilmu pengetahuan Islam tidak dikaji secara intensif, apalagi dikaji dan difahami dalam konteks kekinian. Di Universitas-universitas Islam fakultas-fakultas agama (farÌu 'ayn) tidak berperan menjadi rujukan atau menjadi asas bagi fakultas-fakultas umum (farÌu kifÉyah), ia justru dimarjinalkan.

 

Oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

 

 



[1] Untuk pemabahsan lebih detail lihat Wan Mohd Nur Wan Daud, The Educational Philosophy, hal. 71.

[2] Dalam konteks Islam, sebenarnya tidak ada istilah 'ilmu-ilmu umum,' sebab Islam menjadikan semua aspek, keperluan dan aktifitas kehidupan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dipakainya istilah ilmu-ilmu umum dalam tulisan ini adalah semata-mata merujuk kepada penggunaannya yang sudah begitu populer di Indonesia

PROBLEMATIKA PESANTREN

PROBLEMATIKA

PESANTREN SALAF MASA KINI

Sangat bisa diterima  bahwa pesantren adalah lembaga tertua di Nusantara ini tapi masih sangat relevan untuk dipertahankan eksistensinya. Tetapi dengan kenyataan situasi yang terus berkembang maka pesantren perlu modifikasi agar terus bisa dilihat manfaatnya untuk ummat. Pada masa lampau jelas sekali peran pesantren dalam membentuk kultur budaya bangsa sehingga para alumni pesantren sangat dirasakan manfaatnya di lingkungan masing-masing, baik di tingkat lokal, regional bahkan Nasional.

Ilmu yang ditimba para alumni pesantren dari almamater pesantrennya masing-masing sangat cukup untuk bekal hidup bermasyarakat dan berjuang. Ini tentu ditunjang dengan lebih tekunnya santri tempo doeloe dan berkah para gurunya yang keikhlasan dan kedalaman ilmunya sangat mumpuni. Suatu hal yang menakjubkan, bahwa Ummat Islam Nusantara yang terjajah selama 3 ½ abad dan selalu kalah dalam pertikaian politik dan kekuasaan tapi masih bisa mengembangkan da'wah Islamiyah-nya menjadikan  penduduk menjadi mayoritas muslim dan transaksi dalam kehidupan masyarakat baik ekonomi atau non ekonomi juga sangat banyak yang dipengaruhi oleh teori fiqih Islamiyah.

Ini tidak lepas dari perjuangan pesantren yang bertebaran di pelosok-pelosok tanah air. Kelompok santri memang kalah dalam perebutan kekuasaan dan politik tapi masih berjaya dalam kultur budaya. Konon disebutkan bahwa ketika kolonial datang di Nusantera ini penduduk muslim masih 20 %. Tetapi justru ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, umat Islam meningkat menjadi 95 %. Ironisnya, justru ketika kita sudah merdeka, umat Islam menerima tekanan-tekanan dari kultur budaya, ekonomi dan juga politik sehingga jumlah populasinya mengalami degradasi. Dari sinilah pesantren harus intropeksi diri sendiri agar misi pendidikan, sosial dan da'wahnya tetap eksis.

 

 

 

 

PROBLEMATIKA KURIKULUM.

Kurikulum pesantren salaf yang cenderung berkiblat ke model pendidikan ribath di Hadramaut ini bisa kita maklumi karena para da'i pertama di Jawa memang berasal dari sana (Wali songo juga orang-orang keturunan Hadlorim).

Kurikulum itu yang mencolok adalah penekanannya dalam bidang alat, tashowwuf dan fiqih yang sudah jadi (Maksud penulis: Kitab fiqih yang tanpa disertai adillah istinbathnya. Contoh Sullam Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu'in). Kemudian, Pesantren yang seperti itu kurikulumnya dikenal denga predikat pesantren salaf.

Kemudian predikat pesantren salaf didikotomikan dengan pesantren modern. Walaupun pada awalnya dikotomi ini juga rancu. Sebab ada pesantren yang mengklaim dirinya modern dengan stressing kurikulumnya yang berbeda dengan pesantren salaf. Yaitu stressing pada bahasa Arab atau Inggris dan tidak mau fiqih jadi (maksudnya: Para murid, walaupun murid pemula, diberi pelajaran fiqih dengan sekali gus cara istinbath adillahnya, bahkan muqoronah madzahibnya. Sehingga berdampak murid menjadi tidak fanatik pada madzhab Syafi'i saja). Tetapi (dulu) pesantren modern ini (contoh: Gontor) tidak mau memasukkan pendidikan formal (sekolah berafiliasi DIKNAS/DEPAG) .

Sementara itu ada pesantren yang masih mangaku salafiyah tapi malah sudah mendahului mengadopsi sekolah formal mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, baik yang berafiliasi ke DIKNAS maupun DEPAG (contoh: Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus, asuhan K. As'ad Syamsul Arifin).

Untuk saat ini pesantren modern itu (baca Gontor) bisa dilihat hasilnya dengan menempatkan banyak kader alumninya di panggung karier dan politik tingkat nasional (Ketua NU, Muhammadiyah, Ketua MPR dan MENAG). Hal ini mungkin ditunjang dengan kemampuan komunikasinya yang berbahasa Arab dan Inggris tersebut. Walaupun dari sisi ketangguhan dalam bidang fiqih belum memadai dibanding alumni pesantren salaf. Ini bisa dilihat dari forum bahsul masail yang nampak didominasi alumni pesantren salaf yang biasanya lebih focal. (Memang realita: Forum Bahtsul masail jarang diikuti alumni pondok modern) Bila mendikotomikan kurikulum salaf (bila difahami sebagai kurikulum agama) dengan kurikulum umum juga masih ada sisa pertanyaan disana. Sebab sebenarnya pelajaran agama itu hanyalah quran, hadits, aqidah, syariah dan pendukungnya. Sementara nahwu, shorof, balaghoh (sastra Arab), manthiq, 'arudl, falak dll bukanlah ilmu agama.

Sebab mata-mata pelajaran seperti itu juga diajarkan di sekolah-sekolah umum di Timur Tengah. Tetapi karena disini (di Nusantara) ditulis Arab dan dengan bahasa Arab maka dianggap pelajaran agama.Dengan bekal pengetahuan umum yang ditulis arab itulah barang kali para alumni pesantren salaf tempo doeloe sangat bisa berkiprah di lingkungannya. Tetapi setelah Indonesia ini merdeka dan bahasa Indonesia yang ditulis dengan huruf latin menjadi bahasa resmi negara, ditambah bahasa asing selain bahasa Arab, terutama bahasa Inggris, sangat berpengaruh di lingkungan ilmiyah di negara ini, maka mau tidak mau kita rasakan bahwa itu sangat berdampak bagi menyempitnya ruang gerak berkiprahnya alumni pesantren salaf di masyarakat. Apalagi setelah munculnya peraturan pemerintah dan undang-undang, khususnya

Undang-undang Dosen dan Guru, sangat memukul bagi kiprah pengabdian alumni pesantren salaf di bidang pendidikan formal. Sebab banyak lembaga pendidikan MI dan Mts yang didirikan alumni pesantren salaf tetapi alumni itu sendiri nyaris tidak berhak mengajar di madrasahnya, karena tidak memiliki sertifikasi dan kwalifikasi guru sebagai mana UU guru dan Dosen.

Barang kali berangkat dari sinilah Departemen Agama harus menyiasati dengan mengeluarkan PP No 55 Tahun 2007 untuk menolong kiprah para alumni pesantren salaf agar ruang gerak pengabdiannya di masyarakat lebih leluasa. Intinya, diupayakan agar bagaimana alumni pesantren salaf itu memperoleh penyetaraan dengan sekolah formal dalam dampak civil society. Dan untuk itu memang diperlukan standar kurikulum nasional di pesantren salaf ditambah beberapa mata pelajaran yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat di Negeri ini.

 

PROBLEMATIKA KWALITAS DAN KWANTITAS PESANTREN SALAF.

Hal yang sangat memprihatinkan di kalangan pesantren salaf adalah degradasi kwalitas pendidikannya. Sebab kwalitas ilmu kiyai dan para ustadznya juga banyak yang menurun. Belum sisi lain yang lebih kita kenal sebagai "berkah" juga sangat berkurang karena kadar kwalitas keikhlasan kiyai dan para ustadznya juga merosot. Apalagi bila pesantren salaf itu berganti kelamin menjadi pesantren formal. Secara umum jelas sekali degradasi kwalitas kemampuan kitab kuningnya, bahkan juga sampai ke budaya para santri yang masih menetap di pesantren itu juga ikut berubah. (contoh: yang semula pakai peci dan sarung sekarang sudah tidak lagi. Tata kerama dengan pengasuh juga berubah. Lihat pondok-pondok di Jombang secara umum).

Inilah tantangan berat bagi pengasuh pesantren salaf khususnya yang sudah mengalami regenerasi (ganti pengasuh). Turunnya kwalitas kiyai dan para ustadz akhirnya juga berdampak merosotnya kwantitas santri. Sering kali ada kebijakan jalan pintas untuk mempertahankan eksistensi pesantren tersebut dengan berganti kelamin tadi (dari pesantren salaf berobah menjadi pesantren formal).Tetapi sekarang secara umum sangat dirasakan kemerosotan kwantitas (jumlah santri) pesantren salaf dan juga pesantren formal di mana-mana. Ada yang mencoba melaksanakan penelitian dalam kasus ini. Dan akhirnya menyimpulkan beberapa penyebab, di antaranya sebagai berikut:

1.      Banyaknya alumni pesantren yang mendirikan pesantren sendiri-sendiri. (Dulu banyak santri luar Jawa yang mondok ke Jawa, tetapi sekarang cukup mondok di daerah masing-masing, karena Alumni luar Jawa sudah mendirikan pondok sendiri-sendiri)

2.      Tekanan ekonomi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sementara animo pesantren yang banyak dari kalangan tersebut.

3.      Lembaga pesantren dulu dinilai sebagai lembaga pendidikan termurah. Tetapi setelah adanya dana BOS bagi lembaga pendidikan formal maka pesantren terkesan lebih mahal.

4.      Bagi pesantren yang sudah mengalami regenerasi, umumnya kwalitas pengasuhnya (penerusnya) mengalami kemunduran, baik dari sisi keilmuan maupun keikhlasan.

5.      Banyak alumni pesantren masa kini yang kurang kuat terhadap godaan duniawi, sehingga kurang bisa mencerminkan akhlaqul karimah yang merupakan target utama produk pesantren.

6.      (Ini yang paling meresahkan). Keterlibatan para kiyai dalam panggung politik praktis yang sering kali mengambil kebijaksanaan politik berbeda dari hasil ijtihad siyasiy diantara mereka. Sehingga ada kesan tidak kompak antara para kiyai. Akibatnya, sebahagian umat ada yang su-ud dhan dan tidak simpati lagi kepada sebagian kiyai.

7.      Dan memang barang kali sudah menjadi suratan Ilahi sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulnya SAW bahwa agama ini grorib dan akan kembali ghorib.

Tetapi apapun realitanya, kita wajib mempertahankan asset bangsa yang berupa pondok pesantren ini. Sebab, banyak orang yang masih bertumpu kepada pondok pesantren sebagai benteng moral dan agama di bumi Pertiwi ini.

 

Wallahu a'lam bis showab.

Selasa, 12 April 2011

BUKU PANDUAN BAHASA INDONESIA UNTUK MEMBUAT KARYA ILMIAH

untuk lebih lengkap silakan download di sini:
http://www.ziddu.com/download/14579222/BUKUPANDUANBAHASAINDONESIAUNTUKMEMBUATKARYAILMIAH.doc.html


BAB I
EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN
DAN PENERAPANNYA


1. Pengertian Ejaan
Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek
fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan
penyusunan abjad aspek morfologi yang menyangkut penggambaran
satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda
ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7). Keraf (1988:51) mengatakan bahwa
ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan
lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara
lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu
bahasa. Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk
tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,
secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah
tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda
baca.

1.2 Beberapa Ejaan Resmi yang Pernah Berlaku di Indonesia
Sampai saat ini dalam bahasa Indonesia telah dikenal tiga nama ejaan
yang pernah berlaku. Ketiga ejaan yang pernah ada dalam bahasa
Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Ejaan van Ophuysen
2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi
3. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Sebagaimana yang telah umum diketahui, Ejaan van Ophuysen -- sesuai
dengan namanya -- diprakarsai oleh Ch. A. van Ophuysen, seorang
berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan sejak 1901 hingga
munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan ejaan yang
pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih
bernama bahasa Melayu.
Sebelum ada ejaan tersebut, para penulis menggunakan aturan
sendiri-sendiri di dalam menuliskan huruf, kata, atau kalimat. Oleh
karena itu, dapat dipahami jika tulisan mereka cukup bervariasi.
Akibatnya, tulisan-tulisan mereka itu sering sulit dipahami. Kenyataan
itu terjadi karena belum ada ejaan yang dapat dipakai sebagai pedoman
dalam penulisan. Dengan demikian, ditetapkannya Ejaan van Ophuyson
merupakan hal yang sangat bermanfaat pada masa itu.
Setelah negara kesatuan Republik Indonesia terbentuk dan
diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para ahli bahasa merasa
perlu menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan yang sudah
ada. Ejaan baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada
tanggal 19 Maret tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku
Menteri PP&K (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu
disebut Ejaan Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi.
Sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia, kian hari
dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu lebih disempurnakan lagi. Karena
itu, dibentuklah tim untuk menyempurnakan ejaan tersebut. Pada tahun
1972 ejaan itu selesai dan pemakaiannya diresmikan oleh Presiden
Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

1.3 Pemakaian Huruf
Pemakaian huruf dalam ejaan menyangkut dua hal, yaitu pemakaian huruf
kapital atau huruf besar dan pemakaian huruf miring.

(a) Pemakaian Huruf Kapital
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat dan
petikan langsung.
Misalnya:
(1) Anak saya sedang bermain di halaman.
(2) Apa maksudnya?
(3) Pimpinan kami berkata, "Masalah ini memang sangat kompleks."
(4) Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"

Huruf kapital juga digunakan sebagai huruf pertama pada hal-hal berikut.
1) Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci,
termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh: Allah, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu ya Tuhan.
2) Nama gelar kehormatan dan keagamaan yang diikuti nama orang beserta
unsur nama jabatan dan pangkat.
Misalnya:
Mahaputra Yamin, Raden Ajeng Kartini, Nabi Ibrahim, Presiden Megawati,
Jenderal Sutjipto, Haji Agus Salim
3) Nama orang, nama bangsa, suku bangsa, bahasa, dan nama tahun,
bulan, hari, hari raya, peristiwa sejarah, serta nama-nama geografi.

Misalnya:
Hariyati Wijaya
suku Jawa
bahasa Indonesia
tahun Masehi
bulan November
hari Kamis
hari Natal
Perang Salib
Nusa Tenggara

4) Unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, dokumen
resmi, serta nama buku, majalah, dan surat kabar.
Contoh:
Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Undang-Undang Dasar 1945
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Tulisannya dimuat di harian Kompas.

5) Unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan, dan nama kekerabatan
yang dipakai sebagai sapaan. Contoh:
S.S. (sarjana sastra)
Prof. (profesor)
Ny. (nyonya)
"Namamu siapa, Nak?" tanya Pak Lurah.
Surat Saudara sudah saya terima.

Di samping yang telah disebutkan di atas, huruf kapital juga digunakan
sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Sehubungan dengan penulisan karya tulis, judul karya tulis, baik yang
berupa laporan, makalah, skripsi, disertasi, kertas kerja, maupun
jenis karya tulis yang lain, seluruhnya ditulis dengan huruf kapital.
Selain itu, huruf kapital seluruhnya juga digunakan dalam penulisan
hal-hal berikut:
(1) judul kata pengantar atau prakata;
(2) judul daftar isi;
(3) judul grafik, tabel, bagan, peta, gambar, berikut judul daftarnya
masing-masing;
(4) judul daftar pustaka;
(5) judul lampiran.
Dalam hubungan itu, judul-judul subbab atau bagian bab huruf pertama
setiap unsurnya juga ditulis dengan huruf kapital, kecuali yang berupa
kata depan dan partikel seperti, dengan, dan, di, untuk, pada, kepada,
yang, dalam, dan sebagai.

(b) Pemakaian Huruf Miring atau Garis Bawah
Huruf miring (dalam cetakan) atau tanda garis bawah (pada tulisan
tangan/ketikan) digunakan untuk menandai judul buku, nama majalah, dan
surat kabar yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
(1) Masalah itu sudah dibahas Sutan Takdir Alisjabana dalam bukunya
yang berjudul Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia.
(2) Tulisannya pernah dimuat dalam majalah Kartini.
(3) Harian Kompas termasuk salah satu surat kabar yang terkemuka di Indonesia.

Berbeda dengan itu, judul artikel, judul syair, judul karangan dalam
sebuah buku (bunga rampai), dan judul karangan atau naskah yang belum
diterbitkan, penulisannya tidak menggunakan huruf miring, tetapi
menggunakan tanda petik sebelum dan sesudahnya. Dengan kata lain,
penulisan judul-judul itu diapit dengat tanda petik. Contoh:
(4) Tulisan Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Bahasa Indonesia dalam
Bacaan Anak-Anak" pernah dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
(5) Sajak "Aku" dikarang oleh Chairil Anwar.
(6) Bacalah "Diksi atau Pilihan Kata" dalam buku Kembara Bahasa.

Huruf miring digunakan pula untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
(7) Huruf t sebagai huruf pertama kata Tuhan harus ditulis dengan huruf kapital.
(8) Akhiran –an pada kata kubangan berarti 'tempat'.
(9) Pekerjaan ini harus Saudara selesaikan secepatnya.

Sesuai dengan kaidah, kata-kata asing yang ejaannya belum disesuaikan
dengan ejaan bahasa Indonesia atau kata-kata asing yang belum diserap
ke dalam bahasa Indonesia juga harus ditulis dengan huruf miring jika
digunakan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata go public, devide et
impera, dan sophisticated pada contoh berikut.
(10) Dewasa ini banyak perusahaan yang go public.
(11) Politik devide et impera pernah digunakana Belanda untuk
memecah-belah bangsa Indonesia.
(12) Kata asing sophisticated berpadanan dengan kata Indonesia canggih.

Berbeda dengan itu, kata-kata serapan seperti sistem, struktur,
efektif, dan efisien tidak ditulis dengan huruf miring karena ejaan
kata-kata itu telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Dengan
kata lain, kata-kata serapan semacam itu telah diperlakukan seperti
halnya kata-kata asli bahasa Indonesia.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, banyak pula dikenal nama-nama ilmiah
yang semula berasal dari bahasa asing. Salah satu di antaranya adalah
Carcinia mangostana, yakni nama ilmiah untuk buah manggis. Nama-nama
ilmiah semacam itu jika digunakan dalam bahasa Indonesia juga ditulis
dengan huruf miring karena ejaannya masih menggunakan ejaan bahasa
asing.
Misalnya:
(13) Manggis atau Carcinia mangostana banyak terdapat di pulau Jawa.
Pada nama-nama ilmiah semacam itu huruf kapital hanya digunakan pada
unsur yang pertama, sedangkan unsur selebihnya tetap ditulis dengan
huruf kecil.

untuk lebih lengkap silakan download di sini:
http://www.ziddu.com/download/14579222/BUKUPANDUANBAHASAINDONESIAUNTUKMEMBUATKARYAILMIAH.doc.html


--
www.cairudin.blogspot.com
www.cairudin2blogspot.com
www.rudien87.wordpres.com

PENGERTIAN KARYA ILMIAH

BAB I
PENGERTIAN KARYA ILMIAH

PENDAHULUAN

Karya Ilmiah terbagi atas karangan ilmiah dan laporan ilmiah.

BATASAN

Karangan Ilmiah

Karangan ilmiah adalah salah satu jenis karangan yang berisi
serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh sesuai dengan sifat
keilmuannya. Suatu karangan dari hasil penelitian, pengamatan, ataupun
peninjauan dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1. penulisannya berdasarkan hasil penelitian;
2. pembahasan masalahnya objektif sesuai dengan fakta;
3. karangan itu mengandung masalah yang sedang dicarikan pemecahannya;
4. baik dalam penyajian maupun dalam pemecahan masalah digunakan
metode tertentu;
5. bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, dan cermat;
6. bahasa yang digunakan hendaklah benar, jelas, ringkas, dan tepat
sehingga tidak terbuka kemungkinan bagi pembaca untuk salah tafsir.

Melihat persyaratan di atas, seorang penulis karangan ilmiah
hendaklah memiliki ketrampilan dan pengetahuan dalam bidang :
1. masalah yang diteliti,
2. metode penelitian,
3. teknik penulisan karangan ilmiah,
4. penguasaan bahasa yang baik.

Laporan ilmiah

Di samping istilah karangan ilmiah terdapat pula istilah laporan
ilmiah. Apakah kedua istilah ini sama maknanya ? Untuk jelasnya, lebih
baik dikaji lebih dahulu apakah laporan itu. Laporan ialah suatu
wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari
seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan
dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis
merupakan suatu karangan.. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil
pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun
peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan
kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas
masalah ilmu pengetahuan dan telnologi yang sengaja disusun untuk
disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.

JENIS KARANGAN/LAPORAN ILMIAH

Karangan/laporan ilmiah dapat dibedakan berdasarkan tujuan penulisannya.

1. Kerta kerja
Kertas kerja ditulis untuk disampaikan kepada kelompok tertentu dalam
suatu pertemuan ilmiah, misalnya dalam seminar, simposium, lokakarya,
konerensi atau kongres. Di samping itu kertas kerja dapat juga ditulis
untuk melengkapi tugas-tugas pada mata kuliah tertentu.

2. Artikel
Artikel ditulis untuk pembaca tertentu, umpamanya untuk dimuat dalam
majalah ilmiah. Jika artikel ini ditujukan untuk orang awam, biasanya
penyajiannya secara populer dan dimuat pada surat kabar atau dalam
majalah umum.

3. Skripsi, Tesis, dan Desertasi
Ketiga jenis karangan ilmiah ini ditulis untuk memperoleh pengakuan
tingkat kesarjanaan dalam suatu perguruan tinggi. Skripsi ditulis
untuk memperoleh gelar Sarjana, tesis untuk memperoleh gelar Master
(S2), dan disertasi untuk memperoleh gelar Doktor. Istilah skripsi
sering disebut dengan istilah lain yaitu tugas akhir untuk persyaratan
memperoleh gelar Sarjana.

4. Laporan
Dalam dunia perusahaan dan instansi pemerintah, kegiatan menulis
laporan memegang peranan penting karena tindakan selanjutnya diambil
berdasarkan laporan yang diterima. Laporan itu ada yang ditulis dalam
jangka waktu tertentu yang disebut laporan periodek, dan ada juga yang
ditulis berdasarkan kebutuhan dan permintaan. Laporan ilmiah biasanya
ditulis oleh staf ahli.

FUNGSI LAPORAN

Dalam perkembangan sistem masyarakat dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kedudukan penulisan laporan makin bertambah
penting. Manfaat laporan sangat dirasakan dalam sistem manajemen
modern. Betapa besar manfaatnya dapat dilihat dari fungsi laporan
tersebut.
1. Laporan berfungsi untuk membantu penerima laporan mengambil
keputusan berdasarkan fakta dan gagasan yang dikemukakan penulisnya;
2. Di dalam suatu organisasi yang besar, seorang pemimpin dapat
mengetahui dan mengendalikan perkembangan yang terjadi pada
seksi-seksi yang ada dalam organisasinya dengan mempelajari laporan
yang diterimanya;
3. Bagi seorang pemimpin, laporan dapat mempersingkat jarak dan waktu;
4. Laporan berfungsi juga sebagai penyimpanan ilmu pengetahuan, di
samping sebagai alat penyebarannya;
5. Laporan merupakan wahana yang sangat efektif bagi pemikiran yang kreatif;
6. Laporan dapat juga digunakan untuk menilai kemampuan dan
ketrampilan pembuat laopran.
PENULISAN KARYA ILMIAH

Penulisan karya ilmiah menggunakan bahasa ragam resmi, sederhana, dan
lugas, serta selalu dipakai untuk mengacu hal yang dibicarakan secara
objektif.

Bahan dalam karangan disebut ilmiah apabila lafal, kosa kata,
peristilahan, tata kalimat, dan ejaan mengikuti bahasa yang telah
ditetapkan sebagai pola atau acuan bagi komunikasi, resmi, baik
tertulis maupun lisan.

Kesulitan utama dalam pembakuan bahasa Indonesia ialah dalam bidang
ejaan dan peristilahan. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis harus
mengacu pada
1. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
2. Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI).

Penulisan Kata

Mengenai penulisan kata, yang masih perlu kita pertahankan adalah
sebagai berikut.

1. Awalan di- dan ke- ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Benar Salah
dikelola di kelola
ketujuh ke tujuh

2. Gabungan kata yang salah satu unsurnya merupakan unsur terikat
ditulis serangkai.

Benar Salah
saptakrida sapta krida
sapta-krida
subseksi sub-seksi
sub-seksi
nonkolaborasi non kolaborasi
non-kolaborasi

3. Bentuk dasar berupa gabungan kata yang mendapat awalan atau akhiran
ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur gabungan
kata itu.

Benar Salah
bertolak belakang bertolakbelakang
bertolak-belakang
tanda tangani tandatangani
tanda-tangani
mendarah daging mendarahdaging
mendarah-daging
4. Bentuk dasar berupa gabungan kata yang sekaligus mendapat awalan
dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.

Benar Salah
melatarbelakangi melatar belakangi
melatar-belakangi
menghancurleburkan menghancur leburkan
menghancur-leburkan
penyebarluasana penyebar luasan
penyebar-luasan
dibumihanguskan dibumi hanguskan
dibumi-hanguskan

5. Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
kapital, di antara kedua unsur itu dibubuhkan tanda hubung (-)

Benar Salah
Non-Indonesia nonIndonesia
Non Indonesia
Non-Afrikanisme nonAfrikasnisme
Non Afrikanisme

6. Kata ulang dituliskan dengan menggunakan tanda hubung di antara
kedua unsurnya.

Benar Salah
anak-anak anak anak
undang-undang undang undang
terus-menerus terus menerus

7. Kata depan di atau ke ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

Benar Salah
di rumah dirumah
ke mana kemana

8. Kata sandang si ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

Benar Salah
si pengirim sipengirim
si penerima sipenerima
si pemalu sipemalu
si pencuri sipencuri

9. Partikel per yang berarti 'tiap' dan mulai ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahulu dan mengikutinya. Sebaliknya, per pada
bilangan pecahan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Benar Salah
satu persatu turun satu per satu turun
dua pertiga dua per tiga

10. Singkatan nama gelar sarjana kesehatan, dokter, seringkali
dipermasalahkan. Di dalam lingkungan masyarakat muncul singkatan dr.
untuk dokter (kesehatan) dan DR untuk doktor (purnasarjana). Hal ini
saja bertentangan dengan kaidah karena singkatan Dr. diperuntukan bagi
gelar Doktor, sedangkan DR seolah-olah merupakan singkatan kata atau
nama yang sama halnya dengan PT (perseroan terbatas), SD (sekolah
dasar).
11. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan
atau organisasi, nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf kapital,
tidak diikuti tanda titik.

Benar Salah
DPR D.P.R
PT P.T.
SMP S.M.P
SD S.D.

12. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti
satu tanda titik.

Benar Salah
sda. s.d.a
ttd. t.t.d.
yad. y.a.d

13. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran timbangan, dan mata uang
tidak diikuti tanda titik.

Benar Salah
cm cm.
Rp Rp.
km km.

14. Akronim nama dari, yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
kaiptal.

Benar Salah
Golkar GOLKAR
Kowani KOWANI
Bappenas BAPPENAS
Penulisan Kata Serapan

Bahasa Indonesia telah menyerap berbagai unsur dari bahasa lain, baik
dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing misalnya bahasa
Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, Inggris dan bahasa asing lain.
Berdasarkan cara masuknya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia
dibagi menjadi dua golongan, (1) unsur asing yang belum sepenuhnya
terserap ke dalam bahasa Indonesia dan (2) unsur asing yang pengucapan
dan pernulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Untuk
keperluan itu telah diusahakan ejaan asing hanya diubah seperlunya
sehingga bentuk Indonesia masih dapat dibandingkan dengan bentuk
asalnya. Di dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan dicantumkan aturan penyesuaian itu. Dapat ditambahkan
bahwa dalam hal ini terutama dikenakan kepada kata dan istilah yang
baru masuk ke dalam bahasa Indonesia, serapan lama yang sudah dianggap
umum tidak selalu harus mengikuti aturan penyelesaian tadi.

Berikut ini contoh serapan itu.

Baku Tidak Baku Baku Tidak Baku
apotek apotik arkeologi arkheologi
atlet atlit akhlak ahlak
atmosfer atmosfir akhir ahir, akir
aktif aktip advis adpis
aktivitas aktipitas advokat adpokat
arkais arkhais adjektif ajktif
asas azas konsekuensi konsekwensi
asasi azasi kualifikasi kwalifikasi
analisis analisa kualitas kwalitas
menganalisis menganalisa kuarsa kwarsa
penganalisisan penganalisaan kuitansi kwitansi
ambulans ambulan kuorum kworum
anggota anggauta kuota kwota
beranggotakan beranggautakan konfrontasi konfrontir
balans balan konsinyasi konsinyir
definisi difinisi diskonsinyasi dikonsinyir
depot depo koordinasi koordinir, kordinir
diferensial differensial dikoordinasi dikoordinir
ekspor eksport konduite kondite
aktrover ektrovert kategori katagori
ekuivalen ekwivalen dikategorikan dikatagorikan
esai esei konsesi kosessi
formal formil kelas klas
februari pebruari klasifikasi kelasifikai
filologi philologi linguistik lingguistik
fisik phisik lazim lajim
foto photo likuidasi likwidasi
frekuensi frekwensi metode metoda
Baku Tidak Baku Baku Tidak Baku
film filem motif motip
hakikat hakekat motivasi motifasi
hierarki hirarki masyarakat masarakat
hipotesis hipotesa mantra mantera
intensif intensip manajemen mangemen
insaf insyaf manajer manager
ikhlas ihlas massa massa (orang banyak)
ikhtiar ihtiar masalah masaalah
impor import masal massal
introver introvert misi missi
istri isteri november nopember
iktikad itikad nasihat nasehat
ijazah ijasah penasihat penasehat
izin ijin nasionalisasi nasinalisir
ilustrasi ilustrasi dinasionalisasikan dinasionalasirkan
jenderal jendral operasional operasianil
jadwal jadual objek obyek
kartotek kartotik ons on
komedi komidi organisasi organisir
konkret konkrit probelm problim
karier karir problematik problimatik
kaidah kaedah positif positip
khotbah khutbah produktivitas produktifitas
berkhotbah berkhutbah produktivitas produktifitas
konsepsional konsepsionil psikis psikhis
konferensi konperensi psikologi psikhologi
kreativitas kreatifitas paspor pasport
kongres konggres putra putera
kopleks komplek putri puteri
katalisis katalisa produksi produsir
kuantum kwantum profesi professi


UNTUK LEBIH LENGKAP SILAKAN DOWNLOAD DI LINK DI BAWAH INI:

http://www.ziddu.com/download/14578825/PENGERTIANKARYAILMIAH.docx.html

--
www.cairudin.blogspot.com
www.cairudin2blogspot.com
www.rudien87.wordpres.com

PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA ILMIAH ATAU SKRIPSI

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................
i
Daftar Isi ...................................................................................... ii

Bab 1 Pendahuluan
1. Pengertian
............................................................ 1
2. Pengertian Karya Ilmiah ..................................... 2
3. Pengertian Skripsi
............................................... 2
4. Tujuan Penulisan Skripsi
..................................... 3

Bab 2 Aturan Penulisan Skripsi
1. Syarat Akademik bagi Mahasiswa ...................... 4
2. Pengajuan Proposal Skripsi ................................ 4
3. Pembimbing Skripsi
........................................... 6
4. Bimbingan Penulisan Skripsi ............................. 7

Bab 3 Ujian Sarjana dan Yudisium Sarjana
1. Pengertian Ujian Sarjana
....................................... 8
2. Ketentuan Ujian Sarjana
....................................... 8
3. Persyaratan Mengikuti Ujian Sarjana .................. 8
4. Yudisium Sarjana
................................................. 9

Bab 4 Teknik Penulisan Skripsi
1. Penggunaan Bahasa
.............................................. 10
2. Bagian – Bagian Skripsi
...................................... 11
3. Sistimatika Pengetikan Skripsi ............................ 13
4. Penggunaan Huruf Skripsi ................................... 13
5. Margin Skripsi
..................................................... 13
6. Penggunaan Spasi
............................................... 13
7. Penomoran Halaman Skripsi .............................. 13
8. Judul
................................................................... 14
9. Sub Judul
........................................................... 14
10. Sub – Sub Judul
................................................. 14
11. Alinea atau Paragraf Baru ................................. 14
12. Kutipan dan Rujukan ........................................ 15
13. Tambel dan Gambar .......................................... 17
14. Lampiran
........................................................... 18
15. Daftar Rujukan
.................................................. 19
16. Aturan – Aturan Penyusunan Daftar Pustaka .... 19
17. Penulisan Sumber Rujukan dalam Daftar Rujukan .. 19
18. Kata Pengantar
........................................................ 25
19. Abstrak
................................................................... 25
20. Riwayat Hidup
....................................................... 25

Lampiran – Lampiran
............................................................ 26

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim,
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Berkat kudrah dan
Iradah-Nyalah kami telah diberikan kesehatan dan kesempatan untuk
dapat menyelesaikan tugas penyusunan buku panduan penulisan karya
ilmiah mahasiswa ini. Selawat dan salam kita sampaikan keharibaan Nabi
Besar Muhammad SAW. Karena berkat perjuangan Beliaulah kita telah
terlepas dari belunggu kebodohan dan telah sampai pada zaman yang
penuh dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni ini.
Penyusunan Pedoman Penulisan Skripsi ini merupakan suatu upaya
akademik guna membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya,
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan di
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USM Banda Aceh.
Di samping itu, dengan adanya pedoman ini akan mempermudah bagi
pihak-pihak terkait seperti Pembimbing, Ketua Jurusan dalam
mengarahkan keseragaman format redaksi penulisan skripsi mahsiswa.
Kami menyadari meskipun kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam
menyusun pedoman ini, namun karya ini belumlah dapat memenuhi harapan
kita semua, karena kemampuan kami yang terbatas. Oleh sebab itu dengan
segala kerendahan hati kami menerima kritikan – kritikan yang bersifat
konstruktif demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Akhir kata terima kasih kepada semua anggota yang telah bersusah payah
merampung buku ini, dan terima kasih pula kepada semua pihak yang
membantu, baik moril maupun materil sehingga buku ini dapat selesai
sebagaimana yang telah dijadwalkan, dan Insya Allah mulai dapat
digunakan pada tahun akademik 2007/2008. Sejak diberlakukannya pedoman
penulisan skripsi yang baru ini, dengan sendirinya pedoman penulisan
sebelumnya dinyatakan tidak berfungsi lagi.
Segala bantuan tersebut kami serahkan kepada Allah SWT. Sehingga
menjadi amal bakti yang bergunan di hari kemudian nanti, amin.......

Banda
Aceh, Januari 2007


Tim Penyusun

PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( F K I P )

TIM PENYUSUN

7. Drs. Abubakar Ajalil, M.Si (Ketua)
8. Drs. M.Isa Rani, M.Pd (Anggota)
9. Drs. Jailani, M.Pd (Anggota)
10. Drs. Soewarno, M.Si (Anggota)
11. Dra. Sakdiyah, M.Si (Anggota)
12. Drs. Zulfan, M.Hum (Anggota)


DEPERTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
BANDA ACEH
2007

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................
i
Daftar Isi ...................................................................................... ii

Bab 1 Pendahuluan
1. Pengertian
............................................................ 1
2. Pengertian Karya Ilmiah ..................................... 2
3. Pengertian Skripsi
............................................... 2
4. Tujuan Penulisan Skripsi
..................................... 3

Bab 2 Aturan Penulisan Skripsi
1. Syarat Akademik bagi Mahasiswa ...................... 4
2. Pengajuan Proposal Skripsi ................................ 4
3. Pembimbing Skripsi
........................................... 6
4. Bimbingan Penulisan Skripsi ............................. 7

Bab 3 Ujian Sarjana dan Yudisium Sarjana
1. Pengertian Ujian Sarjana
....................................... 8
2. Ketentuan Ujian Sarjana
....................................... 8
3. Persyaratan Mengikuti Ujian Sarjana .................. 8
4. Yudisium Sarjana
................................................. 9

Bab 4 Teknik Penulisan Skripsi
1. Penggunaan Bahasa
.............................................. 10
2. Bagian – Bagian Skripsi
...................................... 11
3. Sistimatika Pengetikan Skripsi ............................ 13
4. Penggunaan Huruf Skripsi ................................... 13
5. Margin Skripsi
..................................................... 13
6. Penggunaan Spasi
............................................... 13
7. Penomoran Halaman Skripsi .............................. 13
8. Judul
................................................................... 14
9. Sub Judul
........................................................... 14
10. Sub – Sub Judul
................................................. 14
11. Alinea atau Paragraf Baru ................................. 14
12. Kutipan dan Rujukan ........................................ 15
13. Tambel dan Gambar .......................................... 17
14. Lampiran
........................................................... 18
15. Daftar Rujukan
.................................................. 19
16. Aturan – Aturan Penyusunan Daftar Pustaka .... 19
17. Penulisan Sumber Rujukan dalam Daftar Rujukan .. 19
18. Kata Pengantar
........................................................ 25
19. Abstrak
................................................................... 25
20. Riwayat Hidup
....................................................... 25

Lampiran – Lampiran
............................................................ 26

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim,
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Berkat kudrah dan
Iradah-Nyalah kami telah diberikan kesehatan dan kesempatan untuk
dapat menyelesaikan tugas penyusunan buku panduan penulisan karya
ilmiah mahasiswa ini. Selawat dan salam kita sampaikan keharibaan Nabi
Besar Muhammad SAW. Karena berkat perjuangan Beliaulah kita telah
terlepas dari belunggu kebodohan dan telah sampai pada zaman yang
penuh dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni ini.
Penyusunan Pedoman Penulisan Skripsi ini merupakan suatu upaya
akademik guna membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya,
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan di
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USM Banda Aceh.
Di samping itu, dengan adanya pedoman ini akan mempermudah bagi
pihak-pihak terkait seperti Pembimbing, Ketua Jurusan dalam
mengarahkan keseragaman format redaksi penulisan skripsi mahsiswa.
Kami menyadari meskipun kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam
menyusun pedoman ini, namun karya ini belumlah dapat memenuhi harapan
kita semua, karena kemampuan kami yang terbatas. Oleh sebab itu dengan
segala kerendahan hati kami menerima kritikan – kritikan yang bersifat
konstruktif demi kesempurnaan di masa yang akan datang.
Akhir kata terima kasih kepada semua anggota yang telah bersusah payah
merampung buku ini, dan terima kasih pula kepada semua pihak yang
membantu, baik moril maupun materil sehingga buku ini dapat selesai
sebagaimana yang telah dijadwalkan, dan Insya Allah mulai dapat
digunakan pada tahun akademik 2007/2008. Sejak diberlakukannya pedoman
penulisan skripsi yang baru ini, dengan sendirinya pedoman penulisan
sebelumnya dinyatakan tidak berfungsi lagi.
Segala bantuan tersebut kami serahkan kepada Allah SWT. Sehingga
menjadi amal bakti yang bergunan di hari kemudian nanti, amin.......

Banda
Aceh, Januari 2007


Tim Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

1. Pengantar
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kemajuan peradaban manusia
yang sangat penting. Karena melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,
manusia dapat mendayagunakan kekayaan dan lingkungan alam ciptaan
Allah Subhanahu Wata'ala.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mendorong terjadinya
globalisasi kehidupan manusia karena dengan mudah dapat mengatasi
demensi-dimensi ruang dan waktu dalam kehidupannya. Negara-negara
yang telah memilki ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih mudah
melakukan akselarasi di berbagai bidang ke berbagai negera lain.
Sementara negara tersebut sangat sulit diterebos oleh negara-negara
lain yang kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologinya tertinggal, hal
ini akan berdampak buruk bagi kesejahteraan warga negara yang memiliki
kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang rendah.
Pengembangan ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui serangkaian
pengetahuan yang digali, disusun, dan dikembangkan secara sistimatis
dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi
ilmiah, baik yang bersifat kuantitatif, kualitatif maupun ekspoloratif
sehingga dapat menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala
kemasyarakatan tertentu.
Untuk itu kemampuan penguasaan metodologi penelitian dan penulisan
karya ilmiah merupakan pengejewantahan Tridharma Perguruan Tinggi bagi
para mahasiswa sebagai insan kampus yang tidak terpisahkan,
sebagaimna yang telah diamanatkan melalui Pendidikan, Pengajaran,
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Bahkan untuk memperkuat
Penelitian di Indonesia Pemerintah telah mengeluarkan UU RI Nomor. 18
Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan menempatkan Perguruan
Tinggi sebagai salah satu unsur Kelembagaan Sistem Nasional Penelitian
sebagaimana tercantum dalam Bagian Kedua Pasal 7 yaitu : "Perguruan
Tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam sistem Nasional
Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan
teknologi".
Mencermati kedua dasar tersebut maka sangat tepat disebutkan bahwa
para mahasiswa dan dosen merupakan kelompok masyarakat ilmiah yang
tugas pokoknya menyangkut kemampuan menumbuhkembangkan pengusaan,
pemanfaatan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
penelitian dan dan penulisan karya ilmiah, hal inilah yang menjadi
salah satu unsur penguat Lembaga Penelitian di Perguruan Tinggi
sehingga menjadikan Perguruan Tinggi tersebut sebagai salah satu unsur
yang bertanggungjawab dalam Sistem Nasional Penelitian sebagaimana
yang telah dibicarakan di atas.
Mahasiswa sebagai salah satu unsur pergruan tinggi di tuntut kemampuan
membuat karya ilmiah, baik berupa hasil penetitian, konseptual teori,
ide, gagasan maupun hasil pengembangan atau pembahasan atau bentuk
lain yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan konvensi ilmiah yang
dilandasi kejujuran ilmiah. Kegiatan penulisan karya ilmiah dalam
strata penilaian kualitas suatu perguruan tinggi memiliki bobot yang
sangat tinggi. Oleh sebab itu, kegiatan ini dijadikan salah satu tugas
pokok perguruan tinggi seperti yang dijabarkan dalam Tridharma
Perguruan Tinggi.
Dalam mewujudkan karya tulis, memerlukan suatu pedoman yang baik,
sehingga tercipta suatu format yang seragam sebagai salah satu ciri
khas suatu lembaga, Pedoman penulisan karya ilmiah ini dibatasi
sebagai pedoman penulisan skripsi untuk memenuhi kebutuhan khusus bagi
komunitas akademik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Serambi Mekkah. Oleh sebab itu, pedoman ini sejak dikeluarkan
dijadikan sebagai acuan penulisan skripsi mahasiswa Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Serambi Mekkah.
Dalam bab pendahuluan ini dirumuskan pengertian karya ilmiah,
penulisan karya ilmiah, dan pengertian sikripsi.

2. Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan suatu karya tulis yang mengkaji, memuat,
mengungkapkan suatu permasalahan, gejala, fenomena tertentu, atau
temuan baru dalam suatu bidang IPTEK, dan seni yang dapat memberi
sumbangan baru kepada khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
dengan menggunakan kaidah-kaidah keilmuan. Adapun, dimaksud dengan
kaidah-kaidah keilmuan adalah bahwa karya ilmiah menggunakan metode
ilmiah di dalam membahas permasalahan,menyajikan kajiannnya dengan
menggunakan bahasa baku dan tata tulis ilmiah, serta menggunakan
prinsip-prinsip keilmuan yang lain, yakni bersifat objektif, logis,
empiris, sistematis, lugas, jelas, dan konsisten.
Pada mulanya, karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasarkan atas
suatu penelitian ilmiah saja. Namun dalam pengertian yang lebih luas,
karya tulis ilmiah dapat berupa hasil penelitian, hasil suatu kajian
terhadap suatu masalah, suatu konseptual teori, ide dan gagasan, atau
suatu isu baru yang dianalisis dengan menggunakan metode atau prosedur
ilmiah yang cukup tepat.
Pandangan terakhir menggambarkan bahwa suatu karya tulis dianggap
ilmiah apabila dilihat dari ketepatan/kesesuaian penggunaan metode
ilmiah dalam menelaah suatu permasalahan dan kemutakhiran suatu
permasalahannya. Pengertian karya ilmiah itu sendiri telah banyak
dirumuskan oleh para pakar dengan cara yang berbeda¬-beda.
Pengertian karya limiah dalam pedoman ini dibatasi sebagai suatu karya
tulis hasil penelitian, hasil telaah pustaka atau pembahasan, gagasan
dan hasil pengembangan yang mengungkapkan suatu temuan baru yang
memberi sumbangan baru kepada khasanah ilmu pengetahuan yang ditulis
sesuai dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi
ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan disertai prinsip
kejujuran ilmiah. Penyajiannya dilakukan secara cermat, sistematis,
logis, konsisten, serta memiliki kejujuran ilmiah.
Karya ilmiah ditulis dalam bahasa (Indonesia atau Inggris) yang baik,
teratur, konsistensi dan efektif, menggunakan kaidah bahasa baku, dan
menghindari penonjolan pribadi penulis.

3. Pengertian Skripsi
Skripsi adalah karya ilmiah resmi (tugas akhir) yang ditulis mahasiswa
dalam menyelesaikan studi program sarjana (S1). Skripsi merupakan
bukti kemampuan akademik seorang mahasiswa dalam memahami,
mengidentifikasi, dan memecahkan suatu permasalahan yang berhubungan
dengan bidang studi/bidang keahlian yang ditekuninya melalui
penelitian atau pembahasan suatu masalah. Oleh karena itu, skripsi
disusun sesuai dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau
konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Pada tahap
akhir, apa yang ditulis dalam skripsi tersebut dipertahankan oleh
mahasiswa dalam suatu ujian skripsi sebagai satu syarat untuk mencapai
gelar sarjana pendidikan pada FKIP Universitas Serambi Mekkah.

4. Tujuan Penulisan Skripsi/Karya Ilmiah
Tujuan penulisan suatu karya tulis ilmiah atau skripsi oleh setiap
mahasiswa adalah sebagai berikut.
1. Memberikan pengalaman praktik sebagai calon sarjana dalam menyandra
berbagai fenomena sosial bidang pendidikan
2. Meningkatkan kemampuan calon sarjana dalam mengindentifikasi,
menganalisa dan memecahkan permasalahan sesuai dengan bidang yang
ditekuninya.
3. Mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam berfikir dan bersikap
ilmiah, menelaah pemikiran dan fenomena serta mengkomunikasikan
pemikiran yang dimiliki secara tertulis.
4. Merupakan tugas akhir untuk melengkapi tugas akhir dan memenuhi
salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana pendidikan.

BAB II
ATURAN PENULISAN SKRIPSI

Dalam bab ini dijelaskan beberapa ketentuan penulisan skripsi bagi
mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Serambi Mekkah. Ketentuan tersebut antara lain meliputi persyaratan
akademik, pengajuan proposal, pembimbing, bimbingan, dan ujian
skripsi.

A. Syarat Akademik bagi Mahasiswa yang Akan Menulis Skripsi
Mahasiswa yang diperkenankan mengajukan usulan (proposal) penulisan
skripsi apabila telah memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai
berikut.
1. Mahasiswa aktif dan terdaftar (aktif) pada semester yang sedang berjalan.
2. Telah lulus minimal sebanyak 140 SKS dengan indeks prestasi
komu¬latif (IPK) 2,75.
3. Telah lulus mata kuliah Metodelogi Penelitian, Statistik
Pendidikan, Seminar/ Koloqium dengan nilai minimal B.
4. Mencantumkan tanda pengambilan skripsi dalam Kartu Rencana Stu¬di (KRS).
5. Telah menduduki semester tujuh tidak termasuk semester non-aktif,
bagi mahasiswa yang pernah mengambil non-aktif


B. Pengajuan Proposal Skripsi

Dalam mengajukan proposal mahasiswa perlu memperhatikan beberapa
ketentuan berikut ;
1. Mahasiswa harus memilih masalah/judul skripsi yang berkaitan dengan
bidang kependidikan/pembelajaran atau masalah khusus sesuai dengan
program studi yang ditempuh.
2. Mahasiswa mengajukan proposal skripsi setelah berkonsultasi de¬ngan
dosen pembimbing akademik (PA) atau dosen wali melalui Ka. Program
Studi/Ka. Jurusan masing-masing.
3. Ka. Program Studi/Ketua Jurusan meneruskan proposal tersebut kepada
penelaah (calon dosen pembimbing) yang dianggap memahami permasalahan
yang diajukan. Pengiriman atau penyampaian proposal kepada penelaah
selambat-lambatnya satu minggu sebelum penelaahan berlangsung.
4. Ka. Program Studi/Ketua Jurusan menetapkan jadwal penelaahan
proposal skripsi mahasiswa, dengan mengundang dosen penelaah, dan jika
memungkinkan mengumumkan atau mengundang mahasiswa lain yang akan
segera mengajukan proposal skripsi. Hal ini berarti, pengkajian
proposal skripsi minimal diikuti oleh mahasiswa yang mengajukan
proposal, ketua jurusan, calon dosen pembimbing skripsi, dosen
penelaah, dan mahasiswa program studi tersebut yang akan segera
mengajukan proposal skripsi. Penelaah proposal dapat saja dari jurusan
lain, apabila masalah yang akan ditulis oleh mahasiswa sangat terkait
dengan kemampuan dosen tersebut.
5. Di depan mahasiswa yang mengajukan proposal, penelaah mengkaji
kelayakan proposal yang diajukan dan memberi masukan sampai
terwujudnya sebuah proposal skripsi yang layak dilihat dari berbagai
sudut pandang keilmuan.
6. Kerangka/sistematika proposal skripsi berisi hal sebagai berikut.
Sebelum penulisan skripsi diawali dengan penyusunan usulan
penelitian atau disebut dengan proposal penelitian. Dalam penyusunan
proposal perlu memuat langkah-langkah berikut :


1). Bab I Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah (mampu memberi keyakinan bahwa masalah
yang diteliti itu cukup penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan profesi sehingga melahirkan kelayakan mengapa
masalah itu harus diteliti, di dalam penjelasan latar belakang masalah
penulis mampu mengungkapkan secara jelas gambaran permasalahan yang
akan di kaji, dengan membangun pola seharusnya dan senyatanya,
sehingga selisih kedua aspek tersebut perlu dijawab dengan penelitian
yang mendalam). Untuk memudahkan pemahaman pembaca, maka latar
belakang dijelaskan secara singkat dan jelas dan terarah dengan
menggunakan pola deduksi atau induksi.
2. Rumusan Masalah (komprehensif meliputi semua variabel)
3. Tujuan Penelitian
4. Anggapan Dasar dan Hipotesis (Penelitian deskriptif tidak
harus ada hipotesa)
5. Manfaat Penelitian (secara teoritis dan praktis)
6. Organisasi Laporan Penelitian

2). Bab II. Landasan Teori.
Dalam Proposal mahsiswa bab ini mahasiswa tidak perlu
membahas dan menganalisa teori yang akan digunakan secara rinci,
namun yang perlu diperinci adalah pokok-pokok bahasan dan sub-sub
pokok yang akan dianalisa sebagai landasan penelitiannya.

3). Bab III Metodelogi Penelitian
Dalam metodologi penelitian ini memuat berbagai hal
yang menyangkut metoda yang akan digunakan dan sumber data
penelitiannya, perlu diperhatikan kekeliruan dalam metodologi akan
menyebabkan keliru pula hasil penelitiannya, oleh sebab itu metodologi
penelitian harus sesuai dengan sifat masalah, tujuan yang ingin
dicapai dan sumber data yang akan digunakan. Dalam bab ini harus
memuat :
- Populasi dan sample
- Teknik pengumpulan
- Teknik pengolahan dan analisis data)
Semua unsur tersebut perlu dijelaskan secara rinci dan segala
sesuatu secara detil perlu dibunyikan dalam bab ini.

4). Daftar Pustaka yang digunakan.
Tidak ada ketentuan berapa jumlah daftar pustaka yang
harus digunakan dalam suatu penelitian. Namun perlu diperhatikan
konsistensi dan jumlah daftar pustaka yang memadai juga akan mempekuat
kadar keilmiahan suatu karya tulis.

7. Penelaah merekomendasikan proposal skripsi dan selanjutnya
diteruskan oleh mahasiswa kepada Ka. Prodi/Ka. Jurusan untuk mendapat
pengesahan dan penentuan pembimbing dengan surat keputusan (SK)
pimpinan fakultas.
8. Pembimbing utama dan pembimbing pembantu melakukan pembimbingan
ulang secara cermat keseluruhan isi proposal, instrumen penelitian,
dan prangkat lain yang diperlukan dalam penelitian, serta jadwal
penelitian sebelum penelitian dilakukan.
9. Pembimbing utama dan pembimbing pembantu menandatangani lembar
persetujuan pelaksanaan penelitian.
10. Setelah mendapat pengesahan Ka. Prodi/Ka. Jurusan, mahasiswa
mengajukan permohonan izin penelitian kepada Pimpinan Fakultas.

C. Pembimbing Skripsi
Pembimbing skripsi adalah tenaga pengajar tetap atau luar biasa
Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan Universitas Serambi Mekkah yang
memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam
disiplin ilmu yang berhubungan dengan masalah/topik skripsi yang
dibimbingnya.

Ketentuan mengenai pembimbing skripsi diatur sebagai berikut.
(1) Pembimbing skripsi ditetapkan oleh Ka. Prodi/Ka. Jurusan
berdasarkan keterkaitan dan kemampuannya dengan topik skripsi yang
akan ditulis oleh mahasiswa.
(2) Jumlah pembimbing skripsi sebanyak 2 orang terdiri atas pembimbing
utama (1) dan pembimbing pembantu (2).
(3) Persyaratan yang harus terpenuhi oleh calon pembimbing adalah
sebagai berikut :

Pembimbing Utama :
- S3 atau Prof
- S2 Minimal Lektor (III/c)
- S1 Minimal Lektor Kepala (IV/a)
Pembimbing Pembantu:
- S2, S3 atau Pro
- S1 Minimal Asisten Ahli (III/b)

(4) Apabila Program Studi/Jurusan tertentu yang belum dapat memenuhi
ketentuan kualifikasi dan jabatan tersebut bagi calon pembimbingnya
dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ada dengan pertimbangan bahwa
pembimbing utama lebih diutamakan bidang keahliannya walaupun
pangkatnya lebih rendah dari pembimbing pembantu.
(5) Tugas Pembimbing Utama dan Pembimbing Pembantu
a. Memberikan arahan tentang penyusunan proposal, sistematika
dan materi skripsi.
b. Mempertajam dan fokus rumusan masalah, tujuan penelitian dan
hal-hal lain yang menyangkut dengan metodologi penelitian
c. Menelaah dan memberikan rekomendasi tentang prosedur,
instrumen, dan alat pengumpulan data yang akan digunakan.
d. Memberikan persetujuan akhir terhadap naskah skripsi yang
akan diajukan ke sidang sarjana (diawali oleh pembimbing utama).
(6) Baik pembimbing ataupun penguji dapat ditunjuk dari staf pengajar
di luar jurusan yang bersangkutan, asal saja bidang keahliannya
sesuai dengan masalah yang dibahas dalam skripsi tersebut.
(7) Apabila karena suatu hal diperlukan perubahan atau pergantian
pembimbing dapat dilakukan tanpa harus menggantikan judul ataupun
perubahan total terhadap mateda skripsi yang telah dilaksanakan oleh
mahasiswa bersama pembimbing sebelumnya.
(8) Apabila ada sesuatu dan lain hal yang menyebabkan proses
bimbingan, tidak berjalan dengan baik, pergantian pembimbing dapat
saja dilakukan melalui pengusulan kembali oleh Ka. Prodi/Ka. Jurusan
kepada pimpinan fakultas.
(9) Dosen Tetap Yayasan dapat berperan sebagai pembimbing sebagaimana
ketentuan dalam poin (3) di atas, apabila telah memiliki jabatan
fungsional dari Dikti atau telah melakukan usulan berdasarkan PAK dan
surat pengantar Kopertis Wilayah I
(10)Bimbingan adalah usaha mengarahkan hasil kajian teoritis dan
lapangan mahasiswa berdasarkan prinsip-prinsip keilmiahan, bukan
pemaksaan kehendak pembimbing semata.

4. Bimbingan Penulisan Skripsi
Ketentuan-ketentuan mengenai bimbingan dalam penulisan skripsi diatur
sebagai berikut.
(1) Pembimbingan harus dilaksanakan sebaik-baiknya dan menyeluruh
dengan memperhatikan keterampilan proses, prinsip-prinsip keilmuan,
asas demokrasi, dan keadilan. Pemahaman dan keterampilan yang
seharusnya dimiliki oleh mahasiswa dalam proses mengerjakan skripsi
bukan hanya sekadar menghasilkan produk sehingga dia lepas dari
kewajibannya. Akan tetapi, hal¬- hal yang berkaitan dengan kesesuaian
masalah yang diteliti dengan bidang ilmu mahasiswa, orisinalitas
masalah, orisionalitas data, penggunaan bahasa, teknik perujukan dan
penulisan rujukan, dan teknik penulisan haruslah menurut kaidah atau
kelaziman penulisan sebuah karya ilmiah (skripsi). Dan sedapat mungkin
hasil penulisan bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.
(2) Secara formal bimbingan oleh dosen pembimbing dimulai sejak
penunjukan pembimbing hingga skripsi selesai.
(3) Bimbingan skripsi diharapkan dapat selesai paling cepat 3
bulan dan paling lama 6 bulan sejak SK Pembimbing dikeluarkan. Namun
perpanjangan waktu dapat saja dilakukan paling lama l x 6 bulan.
Apabila melewati batas waktu tersebut, maka pembimbing berkewajiban
menanyakan kesanggupan mahasiswa menyelesaikan kewajiban tersebut dan
memberitahukan kepada ketua jurusan yang bersangkutan untuk diambil
langkah-langkah yang tepat.
(4). Skripsi dapat disahkan oleh pembimbing apabila perbaikan
telah dilakukan sesuai dengan arahan.
(5) Skripsi yang telah selesai proses pembimbingannya disahkan
oleh pembimbing dan selanjutnya mahasiswa menyerahkan kepada Ketua
Prodi/ Jurusan untuk menentukan jaduwal ujian sarjananya.
(6) Ketua Prodi/Jurusan mengusulkan kepada fakultas untuk
menetapkan jadwal ujian dan tim penguji. Waktu pengusulan dan
penetapan itu tidak lebih satu minggu terhitung sejak mahasiswa
menyerahkan naskah skripsinya kepada ketua jurusan.
(7) Berdasarkan penetapan tim penguji dan jadwal ujian oleh
Ketua Prodi/Jurusan, Ketua prodi/Jurusan membuat dan menyampaikan
surat undangan kepada tim penguji untuk melaksanakan ujian sarjana
yang disahkan oleh pimpinan fakultas.
(8) Pengiriman undangan ujian skripsi (ujian sarjana) kepada
tim penguji beserta draf skripsi yang telah ditandatangani oleh
pembimbing utama dan pembimbing pembantu.


BAGIAN III
UJIAN SARJANA DAN YUDISIUM SARJANA

1. Pengertian Ujian Sarjana
Ujian sarjana dalam pedoman ini adalah ujian skripsi dan ujian
komprehensif terhadap pengalaman belajarnya di Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan oleh tim penguji yang telah ditunjuk oleh Ketua
Prodi/Jurusan. Pengujian meliputi seluruh aspek serta substansi
skripsi dan mahasiswa mempertanggungjawabkan isi skripsinya secara
baik. Serta ujian penguasaan pengetahuan program studi/jurusan
keahliannya, atau elemen-elemen lain bidang kependidikan dan
keterampilan profesionalnya sebagai calon guru yang baik.
Di samping itu, tim penguji melakukan ujian komprehensif, yakni ujian
penguasaan pengetahuan bidang studi atau bidang keahlian, bidang
kependidikan, dan keterampilan profesional mahasiswa yang bersangkutan
sebagai pertanggungjawaban ilmu yang telah dikuasainya. Kedua ujian
tersebut dilakukan secara terintegrasi pada saat ujian sarjana
berlangsung.
Berikut ini disajikan ketentuan mengenai ujian sarjana (skripsi dan
ujian komprehensif) dan yudisium sarjana.

2. Ketentuan Ujian Sarjana
Dalam pelaksanaan ujian sarjana perluk dilakukan persiapan-persiapan
sebagai berikut ;
(i) Ketua Prodi/Jurusan membuat dan menyampaikan surat undangan ujian
sarjana kepada tim penguji sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
(2) Draf skripsi mahasiswa yang akan diuji telah mendapat bimbingan
dan disahkan oleh pembimbing utama dan pembimbing pembantu.
(3) Draf tersebut diserahkan kepada tim penguji masing-masing 1 (satu)
eks bersama surat undangan ujian sarjana kepada 2 orang pembimbingnya
dan 2 orang penguji, paling lambat 1 (satu) minggu sebelum hari ujian.
(4) Ujian sarjana adalah kewajiban bagi seluruh
mahasiswa dan untuk menentukan lulus atau tidaknya seorang
mahasiswa dalam penyelesaian pendidikan pada Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Serambi Mekkah.
(5) Ketua ujian sarjana adalah pimpinan fakultas, sedangkan Ketua
Prodi/Jurusan adalah sebagai sekretaris ujian sarjana.
(6) Ketua tim penguji adalah Pembimbing utama yang tugasnya
memimpin pelaksanaan ujian sarjana sejak awal sampai ujian berakhir.

3. Persyaratan Mengikuti Ujian Sarjana
Hal ada beberapa hal yang menjadi persyaratan bagi mahasiswa untu
dibenarkan mengikuti ujian sarjana (ujian skripsi dan komprehensif)
yaitu :
a. Telah lulus semua mata kuliah dan telah menyelesaikan semua
kegiatan akademik lainnya yang ditetapkan dalam kurikulum setiap
jurusan
b. Telah melunasi semua uang SPP semester selama kuliah dan SPP
semester sedang berjalan serta persyaratan lainnya yang ditetapkan
oleh fakultas.
c. Tim penguji berjumlah 4 orang dosen yang terdiri dari 2 orang dosen
pembimbing dan 2 orang dosen penguji yang ditetapkan oleh pimpinan
fakultas berdasarkan usulan ketua jurusan.
d. Para penguji haruslah dosen yang memiliki bidang keahlian sama
de¬ngan materi skripsi.
e. Pelaksanaan ujian terhadap seorang mahasiswa hanya boleh dilaku¬kan
jika dihadiri oleh tim penguji secara lengkap dan salah satu
pembimbingnya. Jika salah seorang tim penguji (bukan pembimbing) tidak
berhadir, Ketua Prodi/Jurusan dapat menggantikan tim penguji tersebut.
f. Waktu untuk ujian sarjana bagi seorang mahasiswa minimal 200
menit, belum termasuk jam istirahat jika suatu waktu diperlukan oleh
mahasiswa.
g. Penilaian dalam ujian sarjana secara umum meliputi dua aspek berikut.
a. Penilaian terhadap kemampuan mahasiswa mempertahankan isi skripsinya.
b. Penilaian terhadap kemampuan mahasiswa menguasai penge¬tahuan
bidang keahliannya, bidang kependidikan, dan kete¬rampilan
ketrampilan lain yang dipandang perlu untuk peningkatan
profesionalnya.

4. Yudisium Sarjana
Yudisium sarjana merupakan pengumuman akhir dari kemampuan mahasiswa
terhadap seluruh prestasi akademiknya, termasuk nilai ujian
sarjananya. Yudisium dilakukan oleh pimpinan fakultas setelah ujian
sarjana berakhir.
Seorang mahasiswa berhak mengikuti yudisium apabila telah memenuhi
persyaratan akademik sebagai berikut.
(1) Telah lulus ujian skripsinya
(2) Telah memperbaiki skripsinya sesuai dengan saran atau masukan tim
penguji dan pembimbingnya.
(3) Skripsi telah ditandatangani oleh tim penguji dan para pimpinan fakultas.
(4) Telah menyerahkan skripsi kepada pembimbing utama dan pembimbing
pembantu, jurusan, fakultas, perpustakaan masing-masing satu
eksemplar yang dibuktikan dengan suatu bukti penyerahannya.
Yudisium sarjana dilaksanakan secara kolektif oleh fakultas dalam
rentangan satu bulan sekali. Kegiatan yudisium dipimpin oleh Dekan
FKIP dan dihadiri oleh para Ketua Prodi/Jurusan, dan Dosen Pembimbing.

BAGIAN IV
TEKNIK PENULISAN SKRIPSI

Setiap universitas memiliki bentuk dan cirikhas tersendiri dalam
teknik penulisan skripsi, baik ditinjau dari format, jumlah bab,
teknik pengutipan, penulisan daftar pustaka dan sebagainya. Namun,
apabila dicermati secara mendalam, secara mendalam, semua bentuk karya
tulis ilmiah mahasiswa memperlihatkan ada beberapa kesamaan format
dan teknik penulisannya.
Oleh sebab itu untuk menjaga keseragaman dalam teknik – teknik,
bentuk, jumlah bab tersebut FKIP perlu menetapkan hal-hal sebagai
berikut.

1. Penggunaan Bahasa
Bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Bahasa yang
digunakan dalam penulisan skripsi adalah Bahasa Inggris. Bagi
mahasiswa Jurusan Non-Pendidikan Bahasa Inggris, bahasa yang
digunakan adalah Bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia yang dimaksudkan disini adalah
bahasa baku yaitu memiliki beberapa ciri, antara lain tepat, jelas,
lugas, dan sesuai dengan ketentuan – ketentuan dan kaedah
penulisannya, sehingga memudahkan para pembaca dalam mencerna isi
skripsi tersebut, bahasa yang digunakan harus komunikatif dan jelas.
Ketepatan penggunaan bahasa merupakan kejelian bagi mahasiswa dalam
memilih kosakata, menyusun kalimat dan alinea yang tidak tumpang
tindih. Jelas berarti, unsur-unsur kalimat seperti subjek, prediket,
objek, dan keterangan serta hubungannya tampak secara jelas. Di dalam
setiap kalimat terlihat bagian mana merupakan subjek, bagian mana yang
merupakan prediket, dan bagian mana yang merupakan objek (di dalam
unsur transitif), serta bagian mana yang merupakan keterangan (kalau
ada) sehingga setiap kalimat yang terdapat di dalam skripsi memenuhi
persyaratan kaidah tata bahasa.
Lugas berarti bahasa yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda.
Bentuk dan pilihan kata serta susunan kalimat hanya memungkinkan satu
pilihan tapsiran, yaitu tapsiran yang sesuai dencjan maksud
penulisnya. Setiap kata yang digunakan di beri bobot makna yang
sewajamya sehingga tidak perlu diulang dengan berbagai sinonim atau
paralelisme. Pemakaian kata kiasan sedapat-dapatnya dihindarkan.
Demikian juga, pemakaian metafora dihindarkan karena bahasa yang lugas
harus langsung menunjukkan persoalan. Di samping itu, bahasa yang
lugas memperhatikan segi keekonomisannya sehingga dalam penulisan
skripsi lebih mengutamakan padat isi, bukan banyak atau padat kata.
Komunikatif berarti apa yang di tangkap pembaca dari wacana yang
disajikan sama dengan yang dimaksud penulisnya. Wacana dapat
menjadikan komunikatif jika disajikan secara logis dan tersistem.
Kelogisan itu terlihat pada hubungan antar bagian di dalam kalimat,
antar kalimat di dalam alinea, dan antara linea di dalam sebuah
wacana.
Bersistem berarti uraian yang disajikan menunjukkan urutan yang
teratur. Hubungan yang logis dan teratur itu tercermin di dalam
ketepatan penggunaan kata penghubung intrakalimat seperti karena,
sehingga, supaya, dan, lalu, tetapi dan ketepatan penggunaan kata atau
ungkapan penghubung antarkalimat misalnya jadi, namun, sebaliknya,
oleh karena itu, disamping itu, sehubungan dengan itu, dan dengan
demikian. Disamping itu, tentu saja tanda baca ikut menunjang
penyajian uraian yang logis dan bersistem itu.
Masalah pemakaian kata/istilah asing atau daerah dan singkatan perlu
pula mendapat perhatian di dalam penggunaan bahasa dalam skripsi.
Pemakaian kata/istilah asing atau daerah apabila tidak tersedia dalam
tersedia dalam pedoman umum bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.
Istilah – istilah asing tersebut harus ditulis dengan huruf mereng
(italic).
Apabila ada istilah yang perlu diperkuat dengan bahasa asing, bahasa
indonesia ditulis dahulu, lalu disertakan istiiah asing yang
ditempatkan di dalam kurung dan digaribawahi atau diketik miring.
Ejaan yang digunakan adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempumakan
(EYD). Penulisan kata atau istilah dan penggunaan fungtuasi (tanda
baca) benar-benar harus diperhatikan kaidah-kaidah yang terdapat di
dalam buku Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

2. Bagian-bagian Skripsi
Dalam penulisan sebuah skripsi atau karya ilmiah lainnya pada dasarnya
terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian pertama, bagian isi, dan bagian
akhir. Masing-masing bagian tersebut memuat isi sebagai berikut.

a. Bagian Awal
Bagian pertama berisi sejumlah lembaran yang berisi yaitu :
(1) Lembaran persetujuan dan pengesahan (lihat lampiran)
(2) Abstrak ( satu spasi maksimal 1 halaman)
(3) Kata Pengantar
(4) Daftar Isi
(5) Daftar Tabel, Kalau Skripsi memuat tabel-tabel
(6) Daftar Gambar/ Grafik, kalau dibutuhkan
(7) Daftar Lampiran

b. Bagian Isi
Bagian isi sering juga disebut sebagai batang tubuh suatu skripsi.
Bagian ini terdiri atas sejumlah bab, masing-masing bab paling tidak
memuat sebagai berikut.

(1) Bab I Pendahuluan, berisikan latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, anggapan dasar, hipotesis dan organisasi laporan
penelitian. Hipotesa tidak wajib ada dalam setiap skripsi, harus
dilihat dari sifat penelitian yang dilakukan.

(2) Bab II Landasan Teori atau Kajian Pustaka, memaparkan sejumlah
teori atau hasil penelitian yang mendukung permasalahan penelitian.
Landasan teori bukan memindahkan tulisan buku, tetapi menganalisa dan
membahas permasalahan yang akan diteliti berdasarkan sejumlah teori
dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang dapat dinyakini kebenarannya
yang dapat memperkuat permasalahan penelitian, dan didukung dengan
kutipan seperlunya.

(3) Bab III Metode Penelitian, antara lain berisikan, metode yang
akan digunakan dalam penelitian (memuat penjelasan rinci dan jelas
tentang jenis penelitian, Populasi dan sampel penelitian, teknik
pengumpulan data, teknik pengolahan data dan organisasi laporan
penelitian, masing-masing unsur tersebut dijelaskan serinci mungkin,
karena masing elemen dalam metodologi tersebut saling terkait. Contoh
dalam teknik pengumpulan data disebutkan angket dan wawancara. Hasil
wawancara juga harus dianalisis untuk mendukung kesimpulan setiap
permasalahan yang dibahas.

(4) Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian,
memaparkan hasil-hasil penelitian yang diperoleh baik dalam bentuk
fakta maupun hasil analisisnya. Selanjutnya, hasil-hasil penelitian
tersebut dibahas secara komprehensif. Pembahasan dilakukan secara
argumentatif yang diperkuat dengan landasan teori, konsep, atau
pendapat yang mapan (sedapat mungkin yang terkini), baik yang sudah
dipakai dalam bab II atau teori, konsep, pendapat lain yang diperoleh
selama proses penelitian berlangsung.

(5) Bab V Penutup, berisikan kesimpulan dan saran. Isi bagian
kesimpulan harus bersifat konseptual dan harus terkait langsung dengan
masalah dan tujuan penelitian. Kesimpulan bukanlah singkatan dari
poin-poin yang dibahas, tetapi hasil analisis pembahasan yang dapat
dijadikan sebagai suatu konsep sesuai dengan tujuan penelitian.
Kesimpulan harus terjawab semua tujuan penelitian dan
kesimpulan-kesimpulan lain yang terkait sesuai dengan yang telah
diuraikan secara lengkap dalam Bab I. Disamping itu dalam bab
kesimpulan bisa saja ditambah dengan kesimpulan teoritis sebagaimana
yang telah dibahas dalam bab II, namun yang utama sekali harus
terjawab semua tujuan penelitian dan permasalahan yang telah
dirumuskan di muka.
Tata urutan dalam kesimpulan hendaknya sama dengan urutan-urutan
yang ada di dalam Bab II dan Bab III. hal ini diperlukan untuk
terciptanya konsistensi isi dan tata urutan kesimpulan, sehingga
memudahkan bagi semua pembaca.
Dalam Bab V ini juga disajikan saran. Saran yang diajukan
hendaknya selalu bersumber dari hasil analisa data pada temuan
penelitian dan hasil kajian teori yang mendukung. Dengan kata lain,
saran tidak keluar dari batas-batas ruang lingkup dan implikasi hasil
– hasil penelitian. Saran hendaknya spesifik, rinci, dan operasional
sehingga dapat memudahkan orang lain menafsirkan atau melaksanakannya.
Saran diajukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan masalah, hasil,
dan temuan-temuan penelitian tersebut.

c. Bagian Penutup
Bagian penutup dari suatu skripsi terdiri dari beberapa hal sebagai berikut.
(1) Daftar Kepustakaan
(2) Daftar lampiran-lampiran. Sebuah skripsi yang baik memuat beberapa
hal yang dapat memperkuat hasil temuan dan proses pembuatannya yaitu;
a. Surat keputusan penunjukan pembimbing;
b. Surat keterangan izin melaksanakan penelitian
c. Surat keterangan telah selesai melaksanakan penelitian;
d. Data tabel sebagai pembuktian hasil hitung dan uji,
(3) Daftar Istilah (bila ada)
(4) Daftar Riwayat Hidup penulis ditempatkan pada halaman terakhir.

3. Sistimatika Pengetikan Skripsi
Pengetikan atau penggandaan skripsi dilakukan di atas kertas
putih berukuran kuarto A4 (210,0 x 297,0 mm) yang beratnya 70 grams.

4. Penggunaan Huruf Skripsi
Huruf yang digunakan dalam menulis skripsi adalah Time New Roman
12 pt, Seluruh bagian skripsi diketik menggunakan huruf yang
homogenik, kecuali ukuran huruf untuk pengetikan isi tabel, grafik
atau ilustrasi lainnya dapat lebih kecil dengan catatan mudah di baca.
Instrumen pengetikan skripsi menggunakan komputer.

5. Margin Skripsi
Untuk keseragaman format pada setiap halaman skripsi,
pengetikan tidak dibenarkan keluar dari batas-batas margin berikut.
Ketentuan batas margin ini berlaku juga untuk pengetikan tabel,
gambar, grafik, atau bentuk ilustrasi lainnya. (oleh sebab itu apabila
tabel terlalu besar dan tidak mungkin diperkecil dalam pengetikan
portrait boleh saja tabel tersebut dibuat dalam format lansdcape).

(a) Margin kiri = 4,00 cm;
(b) Margin atas = 3,5,00 cm;
(c) Margin bawah = 3,5,00 cm;
(d) Margin kanan = 2,50 cm;

6. Penggunaan Spasi
Seluruh bagian isi skripsi diketik dalam jarak baris dua
spasi, termasuk jarak antara subjudul/ sub-subjudul dengan baris
alinea pertama di bawahnya dan jarak antarparagraf, kecuali, pada
beberapa hal berikut ini.
(1) Abstrak (1 spasi).
(2) Daftar isi (dalam satu point 1 spasi dan antar point 2 spasi).
(3) Kutipan langsung yang lebih dari 4 baris (1 spasi).
(4) Daftar Pustaka dalam tiap pustaka (1 spasi), anatar daftar pustaka
(2 spasi).
(5) Judul, Sub-judul, Judul tabel, grafik, atau keterangan gambar yang
lebih satu baris (1 spasi).
(6) Isi tabel atau lampiran (bervariasi 1-2 spasi).
(7) Jarak judul bab dengan subjudul atau alinea baru (4 spasi).
(8) Jarak baris terakhir suatu paragraph dengan subjudul (4 spasi).
(9) Jarak baris terakhir suatu paragraf dengan table (4 spasi).
(10) Jarak judul table dengan teks table (1 spasi).
(11) Jarak keterangan gambar/grafik dengan alinea baru atau sub judul (4 spasi).

7. Penomoran Halaman Skripsi
Seluruh bagian pembukaan skripsi diberi nomor halaman dengan
angka Romawi kecil, kecuali untuk halaman sampul, lembaran pengesahan
pembimbing, dan lembaran pengesahan panitia ujian. Penomoran dimulai
dari halaman kata pengantar yang dihitung dari halaman lembaran
sampul. Semua nomor halaman bagian pembukaan ini ditempatkan
ditengah-tengah tepi bawah (2 spasi dari margin bawah).
Seluruh bagian isi dan penutup skripsi diberi nomor halaman dengan
angka Arab. Semua nomor halaman ini ditempatkan pada tepi kanan atas
(2 spasi di atas margin atas). Semua halaman tempat terdapat judul
bab, nomor halamannya ditempatkan ditengah-tengah tepi bawah (2 spasi
dari margin bawah).

8. Judul
Judul skripsi dan judul-judul bab diketik dengan huruf besar
(kapital) dan ditempatkan ditengah-tengah tepi bagian atas. Nomor dan
Judul-judul bab diketik sebagai satu kesatuan. Nomor bab diketik
dengan angka Rumawi (huruf besar) yang ditempatkan di depan judul bab.
Demikian juga dengan judul-judul lembaran pada bagian pembukaan
diketik dengan huruf besar dan ditempatkan ditengah¬tengan halaman
atas. Seluruh kata di dalam judul, baik di bagian pembukaan, isi,
maupun penutup, tidak diketik miring, kecuali kosa kata bahasa asing
atau bahasa daerah.

9. Sub Judul
Judul suatu bab dapat dirinci menjadi beberapa subjudul: Suatu sub
judul dapat pula dirinci menjadi beberapa sub-subjudul. Setiap huruf
pertama dari kata subjudut diketik dengan huruf besar kecuali kata
penghubung dan kata penunjuk.
Penulisan subjudul di beri nomor berurut dengan angka Arab, dengan
titik dibelakang angka tersebut. Subjudul tidak dicetak tebal atau
miring, kecuali kosakata bahasa asing atau daerah, dan tidak diakhiri
dengan titik. Pengetikan subjudul (termasuk nomornya) dimulai dari
margin kiri. Bila subjudul lebih satu baris diketik berjarak satu
spasi dan baris kedua dan seterusnya dimulai sejajar huruf pertama
baris atasnya. Jarak baris terakhir subjudul dengan alinea baru adalah
dua spasi.

10. Sub-Sub Judul
Penomoran Sub-subjudul dimulai dengan nomor subjudul dan diikuti
dengan nomor urut sub-subjudul. Nomor subjudul dengan nomor
sub-subjudul diberi titik. Seluruh kata sub-subjudul, kecuali huruf
awal, ditulis dengan huruf kecil, tidak dicetak tebal atau miring
serta tidak diberi tanda titik.
Pengetikan sub-sub judul (termasuk nomornya) dimulai dari margin kiri.
Bila kata-kata Sub-sub judul lebih dari satu baris, diketik satu
spasi, dan dimulai sejajar dengan huruf awal baris di atasnya.
Jarak baris terakhir dengan sub-subjudul dengan alinea baru sama
halnya dengan sub judul, yaitu dua spasi. Jarak baris terakhir suatu
paragraf dengan subjudul atau sub-subjudul adalah empat spasi.

11. Alinea atau Paragraf Baru
Alinea atau paragraf baru diketik setelah ketukan ke-7 dari margin
kiri. Jarak antara baris terakhir suatu paragraf dengan kalimat
pertama paragraf berikutnya adalah sama dengan jarak antara tiap
baris, yaitu dua spasi.
Jika dalam suatu paragraf terdapat beberapa kalimat uraian yang perlu
dinyatakan dengan angka, penulisan angka dapat dilakukan senyawa
dengan isi teks paragraf dan jika sangat teknis dapat pula dilakukan
secara berurutan dan sejajar dengan alinea baru.

Contoh penulisan angka dalam paragraf yang senyawa dengan isi teks
paragraf, Selanjutnya visi tersebut dijabarkan dalam misi universitas
yang meliputi: 1. Penyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang
berkualitas dan profesional, 2. Mengembangkan nilai-nilai budaya
masyarat, ilmu pengetahuan dan teknologi dengan meningkatkan
penelitian dan pangabdian kepada masyarat yang. 3. Mengembangkan dan
membuka peluang-peluang kerja sama kerjasama institusional, baik
dengan lembaga pemerintah dan swasta 4. Meningkatkan kemampuan
instruksional para dosen guna mempengaruhi daya serap dan kualitas
pembelajaran 5. Meningkatkan pelayanan (exelent service) melalui
upaya peningkatkan kualitas manajemen institutional.

Contoh penulisan angka dalam sutau paragraf yang ditulis secara berurutan
2.1 Belajar
Belajar merupakan usaha sadar yang sistematis dan terencana dalam
pembentukan kepribadian dan mental anak, untuk mencapai hal tersebut
secara optimal maka ada beberapa unsur antara lain ;
1) Lingkungan
2) Kemampuan guru
3) Media Pembelajaran
4) Metoda Pembelajaran
5) Kemampuan siswa
6) Dan alat evaluasi

12. Kutipan dan Rujukan
Kutipan adalah penulisan kembali sebagian teks dari suatu sumber
bacaan atau rujukan. Kutipan itu bermacam-macam jenisnya: kutipan
langsung, dan parafrase, teknik pengutipannya berbeda-beda. Rujukan
adalah sumber bacaan tempat suatu kutipan atau informasi diperoleh
untuk memperkuat suatu karya ilmiah.
Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang diungkapkan dengan bahasa
dan gaya penulis sendiri, sedangkan kutipan langsung adalah
mengungkapkan suatu masalah persis sama dengan sumber aslinya.
Di dalam penulisan kutipan perlu diperhatikan hal-hal berikut.
a. Kutipan langsung yang kurang dari empat baris ditempatkan di dalam
teks di antara tanda petik dengan jarak sama dengan jarak baris di
dalam teks, yaitu dua spasi.
Terdapat dua cara menulis kutipan langsung. Pertama,
nama pengarang disebut secara terpadu di dalam teks. Contoh,
Sebagaimana temuan Abubakar dan Anwar (2005 : 71) bahwa "lebih dari
24% lebih remaja SMA Kota Banda Aceh pernah melakukan prilaku
menyimpang beresiko tinggi (juvenile deliquence) seperti menggunakan
narkoba, dan 6% lebih diantaranya sudah pernah melakukan free sex".
b. Kutipan langsung lima baris atau lebih ditempatkan di bawah baris
terakhir teks yang mendahuluinya. tipan itu diketik tanpa tanda petik,
dengan jarak satu spasi dan menjorok masuk tujuh ketukan dari margin
kiri.

Contoh : Sesuai dengan Pendapat Beth B. Hess (1986 ; 57) sebagai berikut ;
The main poin to remember are these ;
1. Culture develope over the time according to the specific history of the group
2. Culture is learned and transmited from generation to another.
Culture is understood and shere by the members of a society
3. The culture of any one group is composed of many elements that
form a relatively unified whole. That is, various culture traits
(single item) and pattern (set of traits) tend to be consistent with
one ather. This consistency is called cultural integration. ........

Dimerengkan karena kutipan tersebut dari bahasa asing langsung, namun
apabila kutipan dari sumber biasa tidak perlu dimerengkan tetapi
penulisannya persis seperti contoh di atas.

c. Kutipan tidak langsung: nama pengarang dapat disebut terpadu dalam
teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya. Contoh:
Spradley (1997;6) mengemukakan bahwa pengamatan yang dilakukan oleh
dua kelompok yang berbeda terhadap suatu kejadian dapat menimbulkan
interpretasi yang berbeda, atau pengamatan yang dilakukan oleh dua
kelompok yang berbeda terhadap suatu kejadian dapat menimbufkan
interpretasi yang berbeda (Spradley, 1977:6).

d. Jika sumber acuan di dalam bahasa asing, sebaiknya bagian yang
dikutip diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia sebagai
kutipan tidak langsung) jika terpaksa harus dikutip langsung,
pernyataan di dalam bahasa asing itu dikutip sesuai dengan aslinya dan
semua unsur bahasa asing itu diberi garis bawah atau diketik miring
(kursif). Pengetikan kutipan tersebut sama dengan penjelasan (poin b
diatas). Contoh, Bahkan Sutherland dan Cressey (1984 : 43)
membanding angka penyimpang remaja pria dan wanita dengan 15 : 1.
artinya dalam lima belas kasus prilaku menyimpang yang ditemukan hanya
satu yang terjadi pada prilaku remaja wanita, terutama dalam
masyarakat tradisional. Hal itu dapat kita lihat dalam pernyataan
mereka berikut: "Males dominate the world of crime ........... The
crime rate for men greatly in excess of the rate for women in all
nations, all communities a nations in Canada for example the ratio of
male to fameles convicted of serius offenses is about 15:1. the
difference is even greater in traditional societies."

e. Jika di dalam teks nama pengarang tidak dinyatakan, dicantumkan
nama akhir pengarang dan tahun terbit pustaka yang diacu serta nomor
halaman (kalau dikutip pada halaman tertentu) di dalam kurung pada
akhir pernyataan yang dikemukakan sebelum tanda titik akhir kalimat
pernyataan itu. Di antara nama pengarang dan tahun terbit ditempatkan
tanda koma; dan di antara tahun terbit dan nomor halaman ditempatkan
tanda titik dua. Contoh: Dalam penelitian deskriptif tidak wajib harus
ada hipotesis (Sanapiah 1998 : 36 ).
Jika ada dua pengarang, dicantumkan kedua nama akhir pengarang itu
yang dipisahkan dengan kata dan, serta tahun terbitnya. Jika pengarang
lebih dari dua orang, digunakan singkatan dkk. (dan kawan-kawan)
sesudah nama akhir nama pengarang yang pertama. Kata dan singkatan
dkk. tidak digarisbawahi. Contoh, Pergerakan buruh sering kali diawali
oleh tidak terakomudirnya keiginan dan harapannya (Parker, S.R dkk.
1992 : 78). Atau Menuurut Aminuddin dkk. (1978:63), hemoglobin adalah
pigmen merah pembawa oksigen pada butir darah merah.
Jika ada beberapa karya terbitan tahun yang sama dari seseorang
pengarang, sebagai pembeda digunakan huruf a, b, dan c, di belakang
tahun terbit di dalam kurung. Contoh: Selanjutnya, Haris (2001a)
berpendapat bahwa ... Pendapatnya itu diperkuatnya dengan mengatakan
bahwa ... (Haris, 2001b).

f. Jika beberapa sumber informasi diacu bersama, nama-nama pengarang
dan tahun terbit ditempatkan di dalam satu kurung). Penempatannya
mengikuti urutan tahun terbit. Tanda titik koma (;) memisahkan sumber
informasi yang satu dengan yang lain.

Contoh:
........ pembelajaran bahasa Indonesia masih dianggap bermasalah
(Chaer, 1981; Badudu, 1985; Suyono, 1995).

g. Jika buku rujukan tidak mempunyai tahun terbit, dituliskan tanpa
Tahun di dalam kurung sesudah penyebutan nama pengarang.
Contoh:
........ dana moneter internasional (Wardhana, Tanpa tahun: 117)

13. Tabel dan Gambar
Tabel dimaksudkan untuk menyajikan data dan informasi dalam bentuk
yang lebih ringkas. Gambar juga merupakan jenis penyajian data atau
informasi dalam bentuk grafik, peta, diagram, sketsa, foto, dan
rumus-rumus bidang ilmu tertentu yang kompleks. Tabel atau gambar yang
baik dapat mengungkapkan informasi lebih efektif dan efisien daripada
menggunakan serangkaian kalimat.

14. Tabel
Setiap table diberi nomor urut dengan menggunakan angka Arab dan
diberi tanda titik di belakang nomor tersebut, lalu diikuti dengan
judul tabel. Judul tabel diketik dengan huruf besar, kecuali huruf
awalnya dan tidak diakhiri dengan tanda titik). Apabila judul tabel
lebih satu baris di ketik satu spasi dan dengan gambar tabei jaraknya
dua spasi. Penempatan tabel pada suatu halaman disesuaikan dengan teks
tabel dan diupayakan seimbang antara margin- kiri dan kanan. Tabel
juga dapat ditempatkan secara membujur ataupun melintang terhadap
halaman. Sumber dan keterangan lain yang diperlukan untuk tabel
langsung di tulis di bawah tabel dengan ketikan satu spasi.

Contoh:
Tabet 1. Jumlah Mahasiswa yang Memilih Program Studi Bahasa
Indonesia FKIP Universitas Serambi Mekkah Tahun 2003 s/d 2006
berdasarkan Daerah Asal
No. Daerah Asal Tahun Masuk
2003 2004 2005 2006
1. Pidie 24 19 21 20
2. Aceh Utara 29 20 19 23
3. Aceh Timur 15 23 19 12
4. Aceh Barat 13 14 23 19
5. Aceh Tengah 9 3 10 12
6. Aceh Selatan 7 4 9 9
7. Kota Lhokseumawe 10 5 - 8
8. Kota Langsa 4 5 3 9
9. Aceh Besar 7 6 15 23
10. Banda Aceh 5 4 12 35
11. Sabang 8 6 11 12
12. Luar Aceh 9 2 7 10
Jumlah 140 111 67 192
Biro Akademik USM 2006

Tabel diupayakan muat dalam satu halaman. Bila isi tabel tidak mungkin
termuat dalam satu halaman, sisanya diteruskan ke halaman berikutnya,
atau dapat juga halaman tabel itu disambung dengan kertas lain dan
dilipat dengan baik. Atau apabila tabel terlalu panjang maka format
pengetikan boleh dirobah dalam bentuk Landscape.

15. Gambar
Setiap gambar juga diberi nomor urut yang di tulis dengan menggunakan
angka Arab, dan dibelakang nomor tidak diberi tanda titik. Judul
gambar diketik dengan huruf kecil (kecuali huruf awal), tidak dicetak
tebal, dan tidak diakhiri dengan titik. Bila judul dan keterangan
gambar lebih dari satu baris, diketik berjarak 1 (satu) spasi yang
dimulai dibawah huruf awal judul gambar. Bila gambar bukan ciptaan
sendiri, sumbernya ditulis di akhir keterangan gambar.
Penempatan gambar sama dengan penempatan tabel, yakni ditengah-tengah
halaman yang seimbang antara margin kiri dan margin kanan. Hanya saja
judul gambar ditempatkan dibawah gambar.

16. Lampiran
Lampiran merupakan bagian dari sebuah skripsi. Hal-hal yang dimuat
dalam lampiran hendaklah yang langsung berhubungan dengan skripsi.
Bila lampiran lebih dari satu, setiap lampiran diberi nomor urut
dengan angka Arab, ditulis di sudut kiri atas dalam lembaran lampiran
yang bersangkutan. Pengetikan judul lampiran sama seperti pengetikan
judul tabel (kecuali lampiran berupa surat keterangan), yaitu dengan
huruf kecil (kecuali huruf awal), dan bila judul lampiran lebih dari
satu baris, baris berikutnya diketik 1 (satu) spasi.
Bentuk lampiran juga bermacam-macam, dapat berupa tabel, gambar, dan
ilustrasi lainnya. Lampiran ditempatkan setelah daftar pustaka, dan
dalam satu halaman dapat dimuat lebih dari satu lampiran. Lampiran
yang harus ada dalam sebuah skripsi adalah;
1) Surat Keterangan Penunjukan Pembimbing oleh Ketua Jurusan;
2) Surat Keterangan Izin Melaksanakan Penelitian /Mengumpulkan Data di
lokassi penelitian;
3) Surat Keterangan Telah Selesai Melaksanakan Penelitian dari instansi terkait
4) Daftar Riwayat Hidup.


17. Daftar Rujukan
Daftar rujukan adalah daftar sumber bacaan suatu karya tulis ilmiah,
yang biasanya dicantumkan pada akhir suatu karya ilmiah, semua sumber
yang dijadikan sebagai pedoman atau yang nama pernah dirujuk dalam
suatu karya ilmiah wajib disebutkan dalam daftar rujukan.
Sumber rujukan suatu karya tulis dapat berupa buku, jumal, skripsi,
tesis, disertasi, majalah, buletin, makalah seminar, surat kabar, bank
data, microfilm, internet, hasil wawancara, foto, atau bahkan
komunikasi pribadi melalui telepon, e-mail, dan sebagainya. Semua
rujukan yang dicantumkan dalam teks skripsi atau digunakan sebagai
pedoman harus dicantumkan di dalam daftar rujukan atau semua sumber
bacaan yang tertera dalam daftar rujukan dapat ditelusuri atau
ditemukan dalam teks skripsi. Oleh sebab itulah maka judul bagian ini
disebut daftar rujukan. Catatan kuliah atau ceramah tidak dibenarkan
sebagai sumber rujukan, kecuali telah dibukukan atau diktat yang
diterbitkan secara resmi. Itupun dianggap sebagai suatu rujukan yang
lemah.

18. Aturan-aturan Penyusun Daftar Pustaka
Penulisan daftar rujukan menganut sistem American Psychological
Assosiation (APA). Berikut ini adalah aturan-aturan yang harus
diperhatikan dalam penyusunan daftar rujukan.
(1) Daftar rujukan ditempatkan pada lembar bagian penutup skripsi.
(2) DAFTAR PUSTAKA diketik dengan huruf kapital semua, diletakkan di
tengah sehingga jarak margin kiri dengan margin kanan seimbang.
(3) Sumber rujukan yang hendak dicantumkan dalam daftar rujukan
disusun menurut abjad nama-nama pengarang atau lembaya yang
menerbitkan jika tidak ada nama pengarangnya.
(4) Jarak antara DAFTAR PUSTAKA dengan baris pertama adalah empat spasi.
(5) Jika data sumber bacaan lebih dari satu baris, baris-baris
berikutnya diketik satu spasi dan dimulai setelah ketukan delapan dari
margin kiri.
(6) Setiap baris akhir suatu sumber bacaan diakhiri dengan tanda titik.
(7) Jarak antara baris akhir suatu sumber bacaan dengan baris pertama
sumber bacaan berikutnya adalah dua spasi.
(8) Tidak dibenarkan mengubah karakter (huruf) Latin seperti tanda
tanya ( ?) menjadi alfa, beta, gamma dan lain-lain dari judul asli
sumber rujukan.

19. Penulisan Sumber Acuan dalam Daftar Rujukan

1) Buku Sebagai Sumber Acuan
Urutan penyebutan keterangan tentang buku adalah sebagai berikut.
a. Nama pengarang,
b. Tahun terbit,
c. Judul buku,
d. Tempat terbit, dan
e. Nama penerbit.
Tiap-tiap penyebutan keterangan, kecuali penyebutan tempat terbit,
diakhiri dengan tanda titik. Sesudah tempat terbit diberi tanda titik
dua (:).
Jika yang dicantumkan bukan nama pengarang, melainkan nama lembaga
yang menerbitkan, urutan penyebutan di dalam daftar pustaka menjadi:
a. nama lembaga/badan/instansi yang menerbitkan,
b. tahun terbit,
c. judul terbitan, dan
d. tempat terbit.
Jika yang dicantumkan bukan nama pengarang dan bukan nama lembaga yang
menerbitkan, urutan penyajiannnya adalah ,
b. kata pertama judul buku/karangan,
c. tahun terbit,
d. judul buku(karangan (lengkap),
e. tempat terbit, dan
f. nama penerbit.
Berikut penjelasan lebih rinci penulisan tiap-tiap butir tersebut di atas.
a. Penulisan Nama Pengarang
1) Nama pengarang ditulis selengkap-lengkapnya, tanpa mencantumkan
gelar akademik pengarang yang bersangkutan.

2) Penulisan nama pengarang dilakukan dengan menyebutkan nama akhir
atau marga lebih dahulu, baru kemudian nama pertama. Nama akhir yang
ditulis lebih dahulu itu dipisahkan dengan tanda koma (,) dari nama
pertama yang ditulis di belakang nama akhir.
Contoh:
James Coleman ----- Coleman, James
Sanapiah Faisal --- Faisal, Sanapiah
Juanita H. William---- William H., Juanita .
Cara penulisan nama pengarang seperti itu tidak berlaku bagi
nama-nama Tionghoa karena pada nama Tionghoa unsur nama pertama
merupakan nama lamili. Jadi, nama-nama pengarang Tionghoa di dalam
daftar rujukan tidak perlu di balik urutannya.

Contoh:
The Lian Gie
Lie Tie Gwan
Atap Seng
Nama The Lian Gie ditempatkan di dalam urutan huruf T dan nama Lie Tie
Gwan ditempatkan di dalam urutan huruf L.

3) Jika di dalam buku yang diacu itu yang tercantum nama editor,
penulisannya dilakukan dengan menambahkan singkatan (Ed.) dibetakang
nama. Singkatan (Eds.) digunakan jika editornya lebih dari satu.
Singkatan Ed. atau Eds. diawali dengan huruf kapital dan diakhiri
dengan titik, ditempatkan di dalam tanda kurung dengan jarak satu
ketukan dari nama editor.


Contoh:
Letheridge, S. and Cannon, C.R. (Eds.). 1980. Bilingual Educahon:
Teaching English as a Second Language. New York: Preager.

Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Peneliban Kualitatif dalam Bidang
Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang.

4) Jika pengarang terdiri dari dua orang, nama pengarang pertama
ditulis sesuai dengan ketentuan butir 2), yaitu dituliskan nama akhir
lebih dahulu, sedangkan nama pengarang kedua dituliskan menurut urutan
biasa. Di arttara kedua nama pengarang itu digunakan kata penghubung
dan (tidak digarisbawahi).
Contoh:
Beuransah, Banta dan Abdulfah Rani

5) Jika pengarang terdiri dari tiga orang atau lebih, dituliskan nama
pengarang pertama saja sesuai dengan ketentuan butir 2) lalu
ditambahkan singkatan dkk. (bentuk lengkapnya adalah dan kawan-kawan)
dan tidak digarisbawahi.
Contoh :
Kadir, Abdul dkk.

6) Jika beberapa buku yang diacu itu ditulis oleh seorang pengarang,
nama pengarang disebutkan sekali saja pada buku yang disebut pertama,
sedangkan untuk selanjutnya cukup di buat strep sepanjang sepuluh
ketukan yang diakhiri dengan tanda titik dan dilanjutkan dengan tahun
dan seterusnya
Contoh: Hassan, Fuad
----------

b. Penulisan Tahun Terbit
1) Penulisan tahun terbit dituliskan sesudah nama pengarang dan
dibubuhkan tanda titik sesudah tahun terbit.
Contoh: Aminuddin (Ed.). 1990.

2) Jika beberapa buku yang dijadikan bahan pustaka ditulis oleh
seorang pengarang dan diterbitkan di dalam tahun yang sama, penempatan
urutannya didasarkan pada urutan abjad judul bukunya. kriteria
pembedaannya adalah tahun terbit, yaitu dibubuhkan huruf a, b, dan c
sesudah tahun terbit, tanpa jarak. Contoh:
Hassan, Fuad. 1982a
----------- 1982b

3) Jika beberapa buku yang dijadikan bahan rujukan itu ditulis oleh
seorang pengarang, tetapi tahun terbitnya berbeda, penyusunan daftar
pustaka dilakukan dengan urutan berdasarkan urutan terbitan (dari yang
paling lama sampai yang paling baru).

4) Jika buku yang dijadikan bahan rujukan itu tidak menyebutkan tahun
terbitnya, di dalam penyusunan daftar pustaka disebut Tanpa Tahun.
Kedua kata ini diawali dengan huruf kapital dan tidak digarisbawahi.
Contoh:
Johan. Tanpa Tahun.
Amin, Muhammad. Tanpa Tahun.

c. Judul Buku
1) Judul buku ditempatkan sesudah tahun terbit dan diberi garis bawah
tiap-tiap katanya atau diketik miring (kursif).
Judul ditulis dengan huruf kapital pada setiap awal kata yang bukan
kata tugas seperti di, ke, dari, pada, dari pada, uniuk, bagi, dan,
yang, dengan, yang tidak terietak pada posisi awal. Di belakang judul
ditempatkan tanda titik.
Contoh:

Bogdan Robert, C. 1998. Qualitative Research
for Education : an intruduction to theory and Methods. Boston,
London, Sydney and Toronto: Allyn and Bacon Inc.

Debert Miller, C. 1980. Handbook of Research Design and Social
Measurement, New York : David McKay Company, Inc.

Setiarso, Bambang. 1997. Penerapan Teknologi Informasi dalam Sistem
Dokumentasi dan Perpustakaan. Surabaya: Erlangga.

2) Laporan Penelitian, disertasi, tesis, skripsi, atau artikel yang
belum diterbitkan atau dipublikasikan, di dalam daftar pustaka ditulis
dengan diawali dan diakhiri tanda petik. jadi yang dicetak miring
untuk sumber tersebut adalah nama majalah, laporan, jurnal, skripsi,
tesis, disertasi dan makalah.

Contoh:
Abubakar dan Suwaibatul Islamiyah, 2007. Implimentasi Peran dan Fungsi
Komite Madrasah dalam Mewujudkan Kemandirian dan Otonomi Pendidikan
Daerah". Laporan Penelitian Dikti tidak diterbitkan. Banda Aceh: LP2M
Universitas Serambi Mekkah.

3) Unsur-unsur keterangan, seperti jilid dan edisi, ditempatkan
sesudah judul. Penulisan keterangan itu ditulis dengan huruf kapital
pada awal kata, kecuali kata tugas dan diakhiri dengan titik.
Contoh:
Hess, Beth. B. 1987. Sociology. Second
Edition. London: Macmillan Publishing Company.

Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2003. Pengantar Pendidikan, Edisi
Kedua. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

4) Jika sumber acuan merupakan karya terjemahan tanpa tahun buku
sumbernya, maka sumber pustaka seperti itu dapat seperti contoh
berikut :

Zeitlin. Irving M. 1995. Memahami Kembali Sosiologi, Kritik Terhadap
Teori Sosiologi Kontempore. Penerjemah Anshori dan Juhanda. Dari
Rethinking Sociology, A Critique of Contemporary Theory (Tanpa Tahun).
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Parker, S.R dkk. 1992. Sosiologi Industri. Alih Bahasa oleh
G. Kartasapoetra, dari The Sociology of Industry, (Tanpa tahun).
Jakarta : PT. Reneka Cipta.

5) Jika sumber acuan merupakan karya terjemahan yang ada tahun buku
sumbernya, maka sumber pustaka seperti itu dapat seperti contoh
berikut :
Yusuf Qardhawi (asli 1991) Bagaimana Memahami
Syari'at Islam. Terjemahan oleh Nabhani Idris dari Madkhal Li Diraasat
asy-Syari'ah al-Islamiyah, Tahun 1991. Jakarta : Islamuna Press.

d. Tempat Terbit dan Nama Penerbit
1) Tempat terbit sumber rujukan/acuan, baik buku maupun rujukan
lainnya ditempatkan sesudah judul atau keterangan judul (misalnya:
edisi, jilid). Sesudah tempat terbit dituliskan nama penerbit dengan
dipisahkan oleh tanda titik dua dari tempat terbit dengan jarak satu
ketukan.
2) Sesudah penyebutan nama penerbit ditempatkan tanda titik.
3) Apabila buku rujukan tanpa nama pengarang dan ditulis atas nama
lembaga, maka penulisan rujukan tersebut adalah sebagai berikut :

Contoh:
Anonimous. 2001. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
Banda Aceh : Dinas Informasi dan Komunikasi Daerah Istimewa Aceh.

Atau :

Biro Pusat Statistik. 1993. Statistical Pocketbook of Indonesia. Jakarta : BPS.

2) Jika Sumber Acuan adalah Artikel Majalah atau Koran
Jika sumber acuannya berasal dari artikel dalam majalah atau koran,
maka pola penyusunan daftar pustaka berdasarkan urutan berikut:
a. nama pengarang,
b. tahun terbit,
c. judul artikel,
d. nama majalah,
e. terbitan ke berapa (kalau ada),
f. nomor majalah atau bulan terbitan,
g. nomor halaman,
Tiap-tiap penyebutan keterangan nama pengarang, tahun terbit, dan
judul artikel diakhiri dengan titik. Nama majalah dan tahun terbitan
dipisahkan oleh satu ketukan, sedangkan nomor majalah ditempatkan di
dalam tanda kurung. Nomor halaman dipisahkan dengan tanda titik dua
dari nomor majalah.

Contoh:
Syahkubat. 2006. Profesionalisme Mengajar Guru suatu Tinjauan
Teoritis dan Prktik. Jurnal Kependidikan Metologika FKIP Univ.
Pasundan Bandung. Volume 6. (1), Januari 2003 : 12-20.

3) Jika sumber acuan berasal dari artikel dalam surat
kabar, urutan penyebutan keterangannya adalah sebagai berikut:

a. nama pengarang,
b. tahun terbit.
c. judul artikel,
d. nama surat kabar,
e. tanggal terbit.
Tiap-tiap penyebutan keterangan, kecuali penyebutan nama surat kabar,
diakhiri dengan tanda titik. Nama surat kabar dan tanggal terbit
dipisahkan oleh tanda koma.

Contoh:
Hasibuan, Rafli. 1989. 15% Prilaku Remaja SMA Sumatera Utara telah
melakukan Hubungan Free Sex. Waspada, 1 Maret 2007.

4) Antologi sebagai Sumber Acuan
Urutan penyebutan keterangan tentang karangan di dalam antologi adalah
sebagai berikut:
a. nama pengarang,
b. tahun terbit pengarang,,.
c. judul karangan,
d. nama penghimpun/editor,
e. tahun terbit antologi,
f. judul antologi,
g. nomor halaman,
h. tempat terbit
Tiap-tiap penyebutan keterangan, kecuali penyebutan tempat terbit,
diakhiri dengan tanda titik. Sesudah tempat terbit diletakkan tanda
titik dua. Penjelasan nama pengarang buku, tempat buku, nama penerbit
berlaku juga bagi pengarang karangan di dalam antologi. (periksa
ketentuan mengenai buku sebagai sumber acuan).

Contoh:
Kartodirdjo, Sartono. 1977. " Metode Penggunaan Bahan Dokumen"

Dalam Kontjaraningrat (Ed.) 1980. Metode-metode Penelitian Masyarakat.
Hlm. 67-92. Jakarta: Gramedia.

20. Kata Pengantar
Dalam kata pengantar sebuah skripsi berisikan puji syukur kepada Allah
SWT dan selawat kepada Rasulullah SAW. Serta terimakasih kepada
pembimbing dan pihak-pihak yang dirasa perlu yang menyukseskan
pembuatan skripsi baik selama persiapan, pelaksanaan atau telah
membantu penulis selama pendidikan.
Tulisan KATA PENGANTAR ditulis dengan huruf besar, simetris di batas
atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. Teks kata pengantar
diketik dengan spasi ganda (dua spasi). Panjang teks tidak lebih dari
dua halaman kertas ukuran kuarto. Pada bagian akhir teks (di pojok
kanan bawah) dicantumkan nama penulis dan ditandatangani.

21. Abstrak
Abstrak adalah penyajian isi suatu karya ilmiah secara padat dan
singkat atau sering disebut rangkumam isi suatu skripsi, paling tidak
memuat permasalahan yang diteliti tujuan, metodologi dan hasil
penelitian. Panjang abstrak tidak lebih satu halaman atau antara
250-300 kata yang diketik berjarak satu spasi.

22. Riwayat Hidup
Riwayat hidup penulis skripsi hendaknya disajikan secara naratif dan
menggunakan sudut pandang orang ketiga (bukan menggunakan kata saya
atau kamu. Hal-hal yang perlu dimuat dalam riwayat hidup adalah nama
lengkap penulis, tempat dan tanggal lahir, riwayat pendidikan,
pengalaman berorganisasi yang relevan, dan informasi tentang prestasi
yang pernah diraih selama belajar di perguruan tinggi ataupun pada
waktu belajar di sekolah dasar dan sekolah menengah. Yang sudah
berkeluarga dapat mencantumkan nama suami/isteri dan putra-putrinya.
Riwayat hidup diketik dengan spasi tunggal (satu spasi).

23. Pengesahan Skripsi
1. Skripsi dianggap sah apabila telah dipertanggung jawabkan dihapan
Tim Penguji sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan di atas
2. Telah disahkan oleh ke dua pembimbing, diketahui oleh Ketua
Prodi/Jurusan dan disahkan oleh Dekan fakultas (Form lembaran
pengesahan terlampir)

3. Telah disahkan oleh Tim Penguji dan diketahui oleh Ketua
Prodi/Jurusan (Form Pengesahan Tim Penguji Terlampir).

23. Sanksi – Sanksi dan Pelanggaran Penulisan Skripsi

A. Pelanggaran Berat Mahasiswa
1. Mengambil sebagian atau keseluruhan skripsi orang lain
secara utuh untuk diadopsi menjadi karya sendiri dengan tidak
menyebutkan sumber aslinya
2. Membeli skripsi yang dibuat oleh orang lain dengan
sejumlah harga tertentu tanpa terlibat dalam berbagai hal untuk
kesempurnaan penyelesaian skripsinya.
3. Memalsukan salah satu atau ke dua tanda tangan
pembimbing untuk mempercepat penyelesaiannya.
4. Memalsukan tanda tangan tim penguji dan pimpinan fakultas.

Sanksi Pelanggaran Berat

Pemberian sanksi terhadap berbagai pelanggaran berat
dilakukan berdasarkan evaluasi dan musyawarah seluruh elemen yang
terlibat yang dipimpin oleh Ketua Program Studi/Jurusan setelah
berkoordinasi dengan pimpinan fakultas. Sanksi – sanksi yang dapat
diberikan antara lain :
a. Menunda sidang dalam jangka waktu tertentu, dengan mewajibkan
memperbaiki pemalsuan/pelanggaran tersebut sebagaimana mestinya.
b. Menunda yudisium dalam jangka waktu tertentu, dengan mewajibkan
memperbaiki pemalsuan/pelanggaran tersebut sebagaimana mestinya
c. Menunda proses pembuatan ijazah dalam jangka waktu tertentu, dengan
mewajibkan memperbaiki pemalsuan/pelanggaran tersebut sebagaimana
mestinya.
d. Tidak berhasilnya ujian sarjana dan wajib mengikuti ujian ulang
sebagaimana biasanya, meskipun tidak wajib membayar lagi biaya sidang.

B. Pelanggaran Pembimbing
1. Membuat skripsi mahasiswa dengan meminta imbalan dalam jumlah
tertentu tanpa mengindahkan etika profesi
2. Menghambat proses bimbingan dengan berbagai alasan dan tidak
terkait dengan kepentingan akademik
3. Tidak menghadiri ujian sarjana terhadap mahasiswa yang di bimbingnnya.
4. Menandatangani skripsi mahasiswa tanpa mempelajari terlebih dahulu,
baik kesesuaian isi, persyaratan dan dokumen penelitian lainnya.

Sanksi Pelanggaran Pembimbing

Penentuan pembimbing adalah wewenang Ketua Prodi/Jurusan yang
diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam mengajukan nama pembimbing
yang sesuai dengan permasalahan yang sedang dikaji oleh mahasiswa.
Usulan pembimbing semata-mata didasarkan pada kesesuaian pembimbing
tersebut dengan masalah yang ditulis mahasiswa. Oleh sebab itu
pembimbing boleh saja diambil diluar program studi yang bersangkutan.

Namun dalam pelaksanaan bimbingan mungkin saja berbagai
pelanggaran di atas dapat terjadi, maka sanksi – sanksi yang diberikan
lebih mengarah kepada sanksi-sanksi yang dapat mendidik dan
menegakkan moralitas sebagai seorang dosen, dengan berkonsultasi
terlibih dahulu dengan pimpinan fakultas. Sanksi – sanksi tersebut
dapat berupa misalnya dengan mengurangi keterlibatannya sebagai
pembimbing dan penguji.

C. Upaya Pencegahan Penyimpangan Penulisan Skripsi

1. Penjualan skripsi adalah haram hukumnya, karena termasuk dalam
katagori pembodohan, baik bagi si mahasiswa maupun pembuatnya, oleh
sebab itu Ka. Prodi dan Pihak terkait dapat mensosialisasi kepada
semua pihak untuk mengeliminir penyimpangan ini.
2. Pembimbing yang telah ditunjuk harus berpartisipasi aktif
membimbing mahasiswa yang memiliki keterbatasan dalam penulisan
skripsi dengan penuh tanggungjawab sesuai dengan etika keilmuan dan
profesionalitas.


untuk lebih jelas silakan dwonload di bawah ini :

http://www.ziddu.com/download/14578775/pedoman-skripsi.docx.html

--
www.cairudin.blogspot.com
www.cairudin2blogspot.com
www.rudien87.wordpres.com